FIFA Buka Investigasi Resmi ke Argentina atas Kericuhan Final dan Banner Politik

- Kamis, 30 Juli 2026 | 10:36 WIB
FIFA Buka Investigasi Resmi ke Argentina atas Kericuhan Final dan Banner Politik

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) telah membuka penyelidikan resmi terhadap tim nasional Argentina menyusul serangkaian insiden selama Piala Dunia 2026. Investigasi mencakup keributan pasca-final melawan Spanyol hingga dugaan pelanggaran kode etik terkait simbol politik.

FIFA menunjuk jaksa penuntut disiplin dan etik untuk mendalami kericuhan yang pecah saat peluit akhir pertandingan final di New York New Jersey Stadium pada 19 Juli lalu. Dalam laga yang berakhir dengan kekalahan 1-0 Argentina dari Spanyol, sejumlah pemain dan staf pelatih diduga terlibat tindakan agresif terhadap lawan.

Berdasarkan rekomendasi jaksa, penyelidikan kini menyasar pemain seperti Nahuel Molina dan Leandro Paredes, serta asisten pelatih Roberto Ayala atas dugaan penyerangan. Menurut kode disiplin FIFA, pelanggaran perilaku tidak sportif minimal berbuah sanksi satu pertandingan, sementara tindakan penyerangan dapat diganjar larangan bertanding minimal tiga laga.

Selain insiden fisik, Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) juga menghadapi dakwaan pelanggaran multidimensi di berbagai pertandingan. Sorotan utama adalah penggunaan ajang olahraga untuk demonstrasi non-olahraga, yakni saat para pemain merayakan kemenangan di semifinal dengan membentangkan spanduk bertuliskan 'Las Malvinas son Argentinas' merujuk pada klaim wilayah sengketa Kepulauan Falkland.

FIFA juga mendalami laporan terkait tindakan diskriminatif, perilaku rasis, serta pelanggaran keamanan selama pertandingan. Otoritas sepak bola dunia menegaskan bahwa setiap pelanggaran terhadap kode disiplin, termasuk gestur tidak pantas dan gangguan keamanan dari penonton, akan diproses secara transparan demi menjaga integritas kompetisi.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags