Kompetisi kebugaran intensitas tinggi HYROX yang baru digelar di Jakarta menarik antusiasme masyarakat urban, namun pakar kesehatan mengingatkan risiko fatal henti jantung mendadak bagi peserta yang tidak siap secara fisik. Olahraga fungsional asal Hamburg, Jerman ini mengombinasikan lari jarak jauh dengan latihan beban ekstrem, menguji daya tahan dan kekuatan secara menyeluruh. Penggemar kasual hingga selebritas seperti Cinta Laura dan Jennifer Bachdim turut meramaikan ajang tersebut.
Spesialis Bedah Toraks Kardiovaskular Brawijaya Hospital Taman Mini, Dr dr Ismail Dilawar SpBTKV Subsp JD(K) MARS, menyoroti fenomena banyaknya masyarakat awam yang langsung terjun ke olahraga berat demi mengikuti tren media sosial tanpa persiapan matang. "Kalau mereka yang biasa dari muda, dari usia dini sudah berolahraga, mereka sudah terbiasa. Tapi banyak juga yang mengikuti tren. Mereka nggak tahu kemampuan tubuhnya, tiba-tiba yuk ikut maraton, ikut olahraga berat, ada HIIT, segala macam, sekarang yuk berat-berat semua olahraganya, mengikuti tren," ujarnya.
Ismail menjelaskan bahwa kelainan jantung tersembunyi yang dipaksa bekerja melampaui batas secara mendadak bisa memicu henti jantung fatal. Ia mengimbau masyarakat untuk memeriksa kesehatan terlebih dahulu sebelum memulai aktivitas olahraga yang belum diketahui tingkat beratnya. "Mereka nggak tahu kesehatan mereka sendiri sebelum mereka melakukan kegiatan olahraga yang berat tersebut. Dan mereka nggak tahu kalau mereka sebenarnya ada sakit jantung. Jadi apa yang harus dikerjakan? Kalau kita sudah mau melakukan suatu kegiatan olahraga yang baru dan belum kita ketahui berat ringannya, ada baiknya kita yang pertama adalah mengetahui kesehatan kita," imbaunya.
Untuk olahraga ekstrem seperti HYROX atau maraton, pemeriksaan dasar rekam jantung (EKG) dinilai belum cukup kuat mendeteksi kelainan spesifik. Disarankan metode skrining mendalam seperti ekokardiografi, treadmill, CT scan, atau MRI. "Untuk jantung apa sih? Misalnya pakai ekokardiografi, pakai treadmill, pakai sekarang ada CT scan atau MRI. Itu sampai demikian canggihnya. Kalau ditemukan pada pemeriksaan awal, nanti dilakukan lagi dengan pemeriksaan-pemeriksaan selanjutnya. Kateterisasi, CT Angio, dan sebagainya. Jadi memang ini tergantung dari kemampuan masing-masing secara finansial, tapi nasihat yang paling tepat adalah lakukan pemeriksaan yang sesuai dengan apa yang dibutuhkan," pungkasnya.
Selain risiko jantung, gelaran HYROX di Jakarta juga memunculkan sorotan medis terkait peserta yang mengalami buang air besar mendadak atau diare saat bertanding. Fenomena ini dikenal sebagai exercise-induced gastrointestinal symptoms, dipicu oleh berkurangnya aliran darah ke saluran cerna, peningkatan saraf simpatis, tekanan mekanis saat berlari, hingga faktor dehidrasi dan salah memilih makanan sebelum lomba.
Selebritas Jennifer Bachdim membagikan kesan mendalamnya setelah berhasil menyelesaikan kompetisi tersebut melalui unggahan di media sosial. "A weekend I will remember forever, the cheering from everyone, the fighting spirit from all athletes and just the whole vibes has been superb!!!" tulisnya. Sementara itu, Cinta Laura yang turun di kategori Women's Doubles bersama Dea Feraldho berhasil melampaui target pribadinya dengan waktu finis lebih cepat dari perkiraan 1 jam 25 menit, meskipun sempat mengalami jet lag dan sakit beberapa hari sebelum pertandingan.
Format kompetisi HYROX telah terstandarisasi di seluruh dunia. Setiap peserta harus menyelesaikan total lari 8 km dan 8 stasiun latihan fungsional secara berurutan. Rutenya dimulai dengan lari 1 km, dilanjutkan SkiErg 1.000 meter, lari 1 km, Sled Push 50 meter, lari 1 km, Sled Pull 50 meter, lari 1 km, Burpee Broad Jumps 80 meter, lari 1 km, Rowing 1.000 meter, lari 1 km, Farmer's Carry 200 meter, lari 1 km, Sandbag Lunges 100 meter, dan diakhiri lari 1 km.