Pertandingan hidup-mati di Grup L Piala Dunia akan tersaji di Gillette Stadium, Foxborough, ketika Inggris berhadapan dengan Ghana dalam laga yang menentukan siapa yang berhak melaju ke babak 32 besar. The Three Lions, yang dijagokan, mengincar kemenangan kedua mereka, sementara Black Stars datang dengan kesadaran penuh bahwa mereka bukanlah unggulan.
Setelah sukses melewati ujian pertama dengan kemenangan meyakinkan 4-2 atas Kroasia, Inggris kini berada di ambang pintu babak sistem gugur. Satu kemenangan lagi atas Ghana sudah cukup untuk mengamankan tempat di fase knockout dengan satu pertandingan tersisa, sebuah peluang emas yang tidak akan disia-siakan oleh tim asuhan Thomas Tuchel.
Dengan lini depan yang dihuni para pemain haus gol, Inggris seharusnya tidak perlu khawatir akan terjadinya kejutan. Pendekatan menyerang yang diterapkan Tuchel telah terbukti jitu saat melawan Kroasia. Brace Harry Kane, serta gol dari Jude Bellingham dan Marcus Rashford, berhasil menutupi celah di lini pertahanan yang sempat terlihat di babak pertama.
Kemenangan atas Kroasia itu juga memutus rantai negatif panjang Inggris. Rekor sembilan pertandingan tanpa kemenangan di Piala Dunia melawan tim peringkat 15 dunia resmi berakhir. Lebih dari itu, kekalahan beruntun dalam enam laga terakhir melawan tim-tim elite juga berhasil dipatahkan.
Catatan statistik lainnya menunjukkan dominasi Inggris di laga kontra Kroasia. Tim Tiga Singa melepaskan total 20 tembakan di dalam kotak penalti, sebuah rekor baru bagi mereka di ajang Piala Dunia. Kini, mereka bercokol di puncak klasemen Grup L berkat keunggulan selisih gol atas Ghana.
Meskipun segala angka dan fakta mendukung ambisi mereka, Tuchel memilih untuk tetap tenang. Ia menilai Ghana, sama seperti Kroasia, adalah lawan yang berat. “Grup yang sulit dengan Kroasia dan Ghana, dua tim reguler di Piala Dunia dan dua negara yang kuat,” ujar mantan pelatih Chelsea itu dalam pernyataan yang dikutip dari Reuters.
Dari sisi kesiapan pemain, Inggris tidak memiliki masalah cedera serius. Namun, ada sedikit kekhawatiran pada kondisi Bukayo Saka yang mengalami cedera Achilles, serta Marcus Rashford dan Declan Rice yang bermasalah dengan hamstring. Rice dan Rashford dilaporkan sudah mengikuti latihan penuh, sementara Saka masih berlatih secara terpisah.
Tuchel mengisyaratkan bahwa Noni Madueke akan kembali menjadi pilihan utama di sisi kanan serangan. Meski begitu, ia memastikan kondisi Saka terus membaik. “Bukayo sudah siap dan akan semakin siap. Saya pikir begitu kita sampai pada pertandingan terakhir grup ini, dia akan siap,” jelasnya kepada BBC.
Di kubu lawan, Ghana datang dengan modal kemenangan tipis 1-0 atas Panama berkat gol dramatis Caleb Yirenkyi di menit ke-94. Namun, mereka sadar bahwa ujian kali ini jauh lebih berat. Pelatih Carlos Queiroz menegaskan timnya harus siap bekerja keras dan menderita demi meraih hasil positif.
“Untuk menderita dan bermain, kita harus menderita, tidak ada cara lain,” kata Queiroz mengenai pertandingan melawan Inggris, seperti dikutip dari Reuters. Pelatih veteran asal Portugal itu menekankan pentingnya pengorbanan, terutama karena Black Stars bermimpi mengulang kesuksesan sebagai tim Afrika pertama yang mencapai perempat final pada edisi 2010.
“Kita harus siap berkorban. Kita harus siap membayar harganya karena kemenangan di Piala Dunia ini sangat mahal. Tetapi para pemain siap membayar harga itu,” tegasnya.
Kabar baik bagi Ghana adalah kembalinya Thomas Partey. Gelandang Villarreal itu sebelumnya absen melawan Panama karena ditolak masuk Kanada akibat kasus hukum di masa lalunya saat bermain untuk Arsenal. Kini ia tersedia dan kemungkinan besar akan langsung menggeser Elisha Owusu di lini tengah.
Sayangnya, Ghana harus kehilangan kiper utama Lawrence Ati Zigi yang ditarik keluar pada babak pertama melawan Panama karena cedera yang diperkirakan membuatnya absen selama tiga minggu. Alhasil, Benjamin Asare harus siap menjadi starter di bawah mistar gawang.
Di sisi lain, Inggris memiliki keputusan penting di lini pertahanan. Ezri Konsa dan John Stones sama-sama dinilai bertanggung jawab atas dua gol Kroasia di pertandingan pertama. Marc Guehi disebut-sebut bisa menggantikan Konsa untuk menghadapi kecepatan dan fisik pemain Ghana yang bisa merepotkan jika diberi ruang dalam serangan balik.
Kedua negara hanya pernah bertemu sekali sebelumnya, pada tahun 2011. Saat itu, laga persahabatan berakhir imbang 1-1 setelah Asamoah Gyan membalas gol Andy Carroll. Kini, pertemuan kedua mereka memiliki taruhan yang jauh lebih besar: tiket menuju babak 32 besar Piala Dunia.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Jadi Tumpuan Harapan Honda di Moto3 2026 di Tengah Dominasi KTM
Adhyaksa FC Resmi Pindah Markas ke Kalimantan Tengah Mulai Musim 2026/2027
Mills Resmikan Flagship Store Ke-14 di Singkawang, Perkuat Ekspansi ke Kalimantan Barat
Haiti, Turki, dan Tunisia Resmi Tersingkir dari Piala Dunia 2026