Presiden FIGC Mundur Usai Italia Gagal Lagi ke Piala Dunia 2026

- Kamis, 30 April 2026 | 20:15 WIB
Presiden FIGC Mundur Usai Italia Gagal Lagi ke Piala Dunia 2026

ROMA Italia lagi-lagi gagal lolos ke Piala Dunia. Kali ini untuk edisi 2026. Akibatnya, Presiden Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Gabriele Gravina, memutuskan mundur. Tapi jangan bayangkan dia pergi dengan kepala tertunduk malu. Tidak sama sekali.

Gravina malah bersikukuh: masa kepemimpinannya bukanlah kegagalan total. Meskipun, ya, faktanya Italia absen dari turnamen paling bergengsi di dunia untuk ketiga kalinya berturut-turut. Kekalahan dari Bosnia dan Herzegovina di final play-off akhir Maret lalu jadi pukulan terakhir.

“Saya tidak dipaksa mundur,” ujarnya tegas. “Sama sekali tidak. Itu keputusan pribadi saya.”

Dia lalu menjelaskan alasannya. “Saya berkomitmen kepada para penggemar sepak bola Italia untuk membawa tim ke Piala Dunia. Sayangnya, saya tidak mampu memenuhi komitmen itu.”

Menurutnya, langkah ini murni bentuk tanggung jawab. “Ini keputusan yang tepat. Sebuah bentuk cinta dan tanggung jawab,” katanya lagi.

Di sisi lain, pria yang sudah menjabat sejak 2018 ini juga buka suara soal kritik yang terus menghantamnya. Dia menegaskan, dirinya bukan tipe orang yang gampang tertekan.

“Saya bukan orang yang bisa ditekan. Saya berpikir dengan kepala dingin dan tenang. Ini tindakan tanggung jawab untuk federasi,” ucapnya.

“Saat itu terjadi kepanikan institusional di mana-mana. Lebih baik FIGC tidak semakin terekspos,” tambahnya.

Nah, soal kegagalan Gravina punya pandangan sendiri. Dia tidak merasa seluruh kinerjanya selama ini sia-sia. “Saya tidak merasa gagal,” tegasnya lugas.

Dia lalu menjelaskan, penilaian terhadap federasi tidak bisa cuma dilihat dari satu tim nasional. FIGC, katanya, menaungi banyak tim putra, putri, dan berbagai program lainnya yang tetap berjalan.

Dia juga menyoroti adanya kesalahpahaman publik. Menurutnya, banyak tanggung jawab yang sebenarnya berada di luar kendali FIGC. Publik seringkali lupa bahwa federasi bukan cuma soal tim senior pria.

Soal penunjukan pelatih setelah Luciano Spalletti hengkang, Gravina tetap membela keputusannya. “Bagi saya, dia adalah orang yang tepat untuk pekerjaan itu. Dia yang terbaik,” ujarnya.

“Pada saat itu kami butuh seseorang yang bisa membantu para pemain menemukan kembali nilai dari seragam yang mereka kenakan. Tapi, ya, aspek olahraga tidak berjalan sesuai harapan,” katanya, sedikit menyesal.

Menariknya, ketika muncul isu Italia bakal menggantikan Iran di Piala Dunia 2026, Gravina langsung bereaksi keras. “Itu ide yang tidak masuk akal dan memalukan,” ujarnya.

“Kami berjuang demi semangat para penggemar Italia. Merekalah satu-satunya pihak yang pantas pergi ke Piala Dunia,” tambahnya.

Nah, soal siapa yang akan menggantikannya, pemilihan dijadwalkan pada 22 Juni. Dua nama besar muncul: Giovanni Malagò dan Giancarlo Abete. Keduanya jadi kandidat utama.

Situasi ini jelas jadi momen penting bagi sepak bola Italia. Tekanan besar lagi-lagi menghantam setelah kegagalan di level internasional. Pertanyaannya sekarang: akankah ada perubahan berarti? Atau hanya sekadar ganti kursi, masalahnya tetap sama?

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar