Sepak bola itu aneh. Di Italia, lebih aneh lagi. Performa dan persepsi sering tak nyambung. Satu tekel bisa disebut heroik, bisa juga disebut gegabah. Satu penyelamatan bisa jadi awal kebangkitan, atau cuma jeda sebentar sebelum krisis berikutnya datang.
Nah, dalam dunia yang serba ambigu ini, dua pemain Indonesia sedang berusaha menancapkan namanya: Jay Idzes dan Emil Audero. Mereka bukan sekadar pemain pelengkap. Menjelang FIFA Series 2026, keduanya datang membawa pengalaman yang ditempa di kompetisi paling keras di Eropa.
Mari kita mulai dari Emil Audero dulu. Penjaga gawang ini sempat terperangkap dalam siklus buruk di US Cremonese. Bayangkan, lebih dari tiga bulan tanpa merasakan kemenangan. Lima belas pertandingan tanpa hasil maksimal itu bukan cuma angka di kertas. Itu tekanan mental yang menggerogoti, perlahan-lahan.
Tapi sepak bola memang punya caranya sendiri untuk memberi kejutan.
Kemenangan 2-0 atas Parma Calcio 1913 akhirnya datang. Bukan cuma tiga poin. Bagi Audero, itu seperti bisa bernapas lega setelah sekian lama tercekik. Bagi Cremonese, itu secercah harapan bahwa degradasi mungkin masih bisa dihindari.
Posisi mereka di klasemen memang masih mengkhawatirkan. Tapi momen itu memberi sesuatu yang lebih penting dari poin: keyakinan bahwa mereka masih bisa menang.
Di sisi lain, cerita Jay Idzes berjalan dengan ritme yang lain. Bersama Sassuolo, dia jadi tulang punggung pertahanan posisi yang nggak boleh lengah sedetik pun. Lawannya di Turin waktu itu adalah Juventus, dan dalam satu malam Idzes merasakan dua sisi ekstrem sepak bola.
Pertama, ketangguhan. Dia membantu timnya bertahan untuk hasil imbang 1-1 di markas sang raksasa. Tapi ada juga momen rapuhnya: handball di kotak penalti di menit-menit akhir. Keputusan sepersekian detik yang hampir menggagalkan semuanya.
Biasanya, cerita berakhir di situ untuk seorang bek. Tapi kali lain. Penaltinya gagal, skor tetap, dan Idzes pun keluar dengan perasaan campur aduk.
Media Italia, seperti biasa, punya banyak sudut pandang. Sebagian melihatnya goyah, bagian dari pertahanan yang kurang solid. Tapi ada juga yang memuji perannya menjaga struktur belakang Sassuolo tetap utuh di bawah gempuran Juventus.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Siap Hadang Dominasi KTM dari Posisi Keempat Grid Moto3 Brasil
Veda Ega Pratama Siap Bertarung dari Posisi Keempat Moto3 Brasil Malam Ini
Trio Rival Rookies Cup 2025 Ramaikan Barisan Depan Moto3 Brasil
Veda Ega Pratama Catat Start Terbaik Karier di Kualifikasi Moto3 Brasil