Puncaknya terjadi pada menit ke-78. Cedera kembali menimpa satu pemain Persibone, sehingga jumlah pemain aktif mereka di bawah batas minimal. Wasit pun terpaksa menghentikan pertandingan. Saat peluit panjang dibunyikan, papan skor telah menunjukkan angka fantastis 21-0 untuk kemenangan Makassar City.
Dampak dan Refleksi di Balik Angka
Kekalahan telak ini secara resmi mengakhiri perjalanan Persibone di fase grup Liga 4 Sulsel. Di Grup I, perebutan tiket juara grup kini akan diperebutkan oleh Makassar City dan Persijo Jeneponto. Namun, cerita di balik skor besar itu jauh lebih kompleks.
Liga 4 sebagai fondasi piramida sepak bola nasional seharusnya menjadi wadah pembinaan dan kompetisi yang sehat. Namun, pertandingan ini menyoroti persoalan klasik di level akar rumput: pendanaan, logistik, dan ketersediaan pemain yang belum merata. Persibone datang dan bertarung dengan segala kemampuan yang ada, tetapi kompetisi pada level ini menuntut kesiapan yang lebih matang dari semua aspek.
Bagi Makassar City, kemenangan ini tentu menjadi modal psikologis dan strategis yang berharga. Namun, bagi banyak pengamat dan pecinta sepak bola lokal, skor 21-0 adalah gambaran nyata tentang jurang yang masih perlu dijembatani dalam ekosistem sepak bola daerah.
Pertandingan di Tompobulu sore itu mungkin akan dikenang bukan karena keherotikan, melainkan karena kontras yang begitu tajam di atas lapangan hijau. Ia mengingatkan semua pihak bahwa di balik glamornya sepak bola top level, terdapat fondasi yang perlu terus diperkuat agar setiap pertandingan benar-benar mencerminkan semangat sportivitas dan kompetisi yang sehat.
Artikel Terkait
Jay Idzes Soroti Energi dan Taktik Baru John Herdman di Debutnya dengan Timnas Indonesia
Pelatih Bulgaria Buka Peluang Kembali Berkarier di Indonesia
AS Roma Minat Rekrut Mohamed Salah, Syaratnya Potong Gaji Drastis
Herdman Soroti Tiga Pemain Kunci untuk Persiapan Timnas Indonesia Menuju Piala Dunia 2030