“Hal ini membuka peluang yang lebih luas bagi atlet untuk tampil di level tertinggi,” jelas Bambang.
“Atlet juga akan menjalani lebih banyak pertandingan karena menggunakan sistem setengah kompetisi hingga lolos ke babak 16 besar.”
Aspek lain yang tak kalah penting adalah pemulihan fisik. Format baru dengan dua lapangan utama dan jadwal yang tidak terlalu padat memberi atlet jeda istirahat yang lebih manusiawi. Ini hal krusial untuk menjaga performa puncak mereka dari awal hingga final.
Tak cuma soal di dalam lapangan. PBSI juga punya visi untuk menghidupkan atmosfer di sekelilingnya. Konsep ‘sportainment’ perpaduan olahraga dan hiburan akan diusung lebih serius. Durasi 11 hari membuka ruang lebar untuk berbagai aktivasi dan pertunjukan, menciptakan pengalaman yang lebih kaya bagi penonton di lokasi maupun yang menyaksikan lewat layar.
“Sportainment menjadi bagian penting untuk menghadirkan pengalaman menonton yang lebih menarik,” ungkap Bambang.
Pada akhirnya, semua langkah ini bertujuan satu hal: memperkuat daya pikat Indonesia Open 2027 sebagai event global. Sebuah ajang yang tak hanya diincar poin rankingnya, tapi juga dinanti-nantikan gegap gempitanya. Dan langkah BWF ini, di mata PBSI, adalah jalan yang tepat untuk sampai ke sana.
Artikel Terkait
Fu Haifeng, Legenda Bulutangkis China, Ternyata Berdarah Indonesia
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts dan Nevis dengan Selisih Nilai Pasar Pemain 50 Kali Lipat
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan