“Jadi, jika itu dua pabrikan alih-alih pembalap dengan motor yang sama, mungkin kita akan lebih menikmatinya,” lanjutnya. “Mengapa tidak mengharapkan duel yang hebat? Márquez, Bezzecchi, Ducati, Aprilia, itu akan menjadi yang terbaik bagi kita para penggemar.”
Itu intinya. Bagi seorang legenda seperti Cadalora, balap motor terasa lebih hidup ketika ada konflik lintas tim. Ketika strategi, mesin, dan karakter pembalap dari pabrikan berbeda saling sikut di lintasan. Bukan sekadar duel internal dalam satu garasi yang sudah punya paket motor sama.
Di sisi lain, Cadalora juga punya harapan untuk Francesco Bagnaia. Pebalap Ducati yang pernah juara dunia itu hanya finis kelima di 2025. Musim yang jelas-jelas sulit baginya.
“Saya harap Bagnaia bisa kembali menemukan sentuhan dan daya saingnya. Dan mengapa tidak, saya pikir dia memiliki setiap kesempatan. Itu saja,” pungkasnya.
Jadi, bayangkan saja. Jika Bagnaia bangkit, ditambah rivalitas sengit antara Marquez di Ducati dan Bezzecchi yang makin matang di Aprilia, MotoGP 2026 memang berpotensi jadi ajang yang jauh lebih seru. Persaingan yang diidam-idamkan para penggemar tulen: berdarah-darah, penuh kejutan, dan tak cuma berkutat di dalam satu tim.
Artikel Terkait
Persija Tegaskan Fokus Lawan Persijap, Bukan Terpaku pada Duel Panas Kontra Persib
Leao Pecah Kebuntuan, Milan Rebut Puncak Klasemen Meski Allegri Soroti Sisi Gelap
Yamaha Putar Haluan ke V4, Akui Mesin Lama Sudah Mentok
Persija Hadapi Persijap Usai Pesta Malam Tahun Baru