Selepas jeda, tekanan dari Tanaka semakin terasa. Jonatan sempat berusaha mengejar ketertinggalan dan menjaga jarak di angka 13-14, namun konsistensi lawan dan sederet kesalahan yang dibuatnya sendiri membuatnya kesulitan. Tanaka, yang tampil lebih gesit dengan variasi pukulan yang akurat, akhirnya menutup gim pertama dengan skor 21-17.
Memasuki gim kedua, Jonatan sama sekali tak menemukan ritme permainannya. Tanaka langsung memaksa dengan mencatatkan keunggulan 0-4. Meski sempat menghentikan laju angka beruntun lawan dengan sebuah backhand smash silang, Jonatan terus dibuat frustrasi. Kesalahan pukulan yang kerap melenceng dan masalah pengamatan lapangan membuatnya tertinggal jauh 4-11 pada interval.
Upaya perbaikan di sisa pertandingan tak membuahkan hasil. Jonatan mencoba mengeksploitasi area belakang lapangan Tanaka, namun strategi ini justru banyak menghasilkan pukulan keluar. Upayanya untuk mengarahkan bola ke sisi-sisi lapangan juga kerap gagal menemui sasaran. Dominasi Tanaka pun tak terbendung, dan pertandingan berakhir dengan kekalahan telak 7-21 untuk Jonatan Christie.
Kekalahan ini menjadi catatan penting bagi Jonatan Christie untuk mengevaluasi konsistensi dan ketahanan mentalnya menghadapi tekanan dalam pertandingan-pertandingan krusial mendatang.
Artikel Terkait
Barcelona Minta Jadwal Liga Champions Diubah Hindari Bentrok dengan Pemilihan Presiden
Persebaya Hadapi PSM di Bung Tomo, Perebutan Puncak Klasemen dan Kehormatan
Timnas Futsal Putri Indonesia Hadapi Thailand di Laga Pembuka Piala AFF 2026
Fiorentina dan Bologna Menang Tipis, Papan Tengah Serie A Bergeser