Ledakan SMAN 72 Jakarta: Motif Pelaku ABH, Dendam hingga Terinspirasi Penembakan Massal

- Selasa, 11 November 2025 | 20:50 WIB
Ledakan SMAN 72 Jakarta: Motif Pelaku ABH, Dendam hingga Terinspirasi Penembakan Massal
Motif Pelaku Peledakan SMAN 72 Jakarta: Rasa Dendam dan Pengaruh Konten Kekerasan

Motif Pelaku Peledakan SMAN 72 Jakarta: Rasa Dendam dan Pengaruh Konten Kekerasan

Polisi mengungkapkan bahwa siswa ABH pelaku peledakan di SMAN 72 Jakarta merasa kesepian dan menyimpan dendam terhadap perlakuan orang-orang di sekitarnya. Perasaan dendam ini telah dipendamnya selama berbulan-bulan, dimulai sejak awal tahun 2025.

Juru bicara Densus 88 Anti Teror Polri, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menjelaskan bahwa pelaku mulai merasa tertindas dan tidak memiliki tempat untuk berbagi. "Dari awal tahun, yang bersangkutan sudah mulai melakukan pencarian-pencarian, merasa tertindas, kesepian, dan tidak tahu harus menyampaikan perasaannya kepada siapa. Motivasi utamanya adalah dendam terhadap beberapa perlakuan yang diterimanya," ujarnya dalam konferensi pers di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, pada Selasa (11/11/2025).

Setelah itu, pelaku diketahui aktif mencari informasi tentang cara orang meninggal dan berbagai konten kekerasan lainnya. Ia juga bergabung ke dalam grup-grup yang mengagungkan kekerasan di media sosial.

"Keanggotaannya dalam komunitas kekerasan di media sosial menginspirasinya untuk bertindak. Di komunitas tersebut, aksi kekerasan dianggap sebagai hal yang heroik dan mendapat apresiasi. Ini adalah hal yang sangat memprihatinkan," tambah Mayndra.

Pelaku juga terinspirasi oleh aksi penembakan yang terjadi di luar negeri. Bahkan, ia menuliskan nama-nama pelaku penembakan internasional pada senjata mainan yang dibawanya saat melakukan aksi.

Densus 88 mengidentifikasi enam nama pelaku penembakan yang ditulis oleh siswa ABH tersebut. Tiga di antaranya adalah Alexandre Bissonnette (pelaku penembakan di Quebec City pada 29 Januari 2017), Luca Traini (pelaku penembakan terhadap enam migran asal Afrika di Kota Macerata pada Februari 2018), dan Brenton Harrison Tarrant (pelaku penembakan massal di dua masjid di Selandia Baru pada 15 Maret 2019).

Peristiwa ledakan ini terjadi pada Jumat (7/11) saat khotbah salat Jumat berlangsung. Akibat insiden tersebut, sebanyak 96 orang menjadi korban.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar