Filosofi Suguh, Gupuh, Lungguh dan Dampak Ekonomi
Kepala Desa Kemiren, M. Arifin, menjelaskan bahwa festival yang telah berlangsung 12 tahun ini bertahan berkat kekompakan warga. Kegiatan ini dilandasi filosofi masyarakat Osing, yaitu suguh, gupuh, lungguh, dalam menerima tamu. Festival Ngopi Sepuluh Ewu tidak hanya menjadi wadah pelestarian budaya, tetapi juga sarana pemberdayaan ekonomi warga yang efektif.
Testimoni Pengunjung: Dari Wisatawan Mancanegara Hingga Selebgram
Keseruan festival ini diakui oleh berbagai pengunjung. Pasangan wisatawan asal Republik Ceko, Adela dan Ardek, mengungkapkan kekaguman mereka atas keramahan warga dan kelezatan kopi serta kue kucur. Mereka berjanji akan merekomendasikan Banyuwangi kepada teman-temannya. Selebgram Winona Araminta juga membagikan pengalaman positifnya, menyebut suasana festival menyenangkan dengan makanan yang enak dan harga terjangkau.
Festival Ngopi Sepuluh Ewu merupakan event wisata unggulan Banyuwangi yang berhasil memadukan budaya, kuliner, dan keramahan lokal, menawarkan pengalaman wisata yang autentik dan tak terlupakan bagi setiap pengunjung.
Artikel Terkait
Arab Saudi Apresiasi Resolusi Dewan HAM PBB yang Kutuk Serangan Iran
Serangan Udara AS-Israel Tewaskan Dua Remaja di Iran, Dampak Merambah ke Abu Dhabi
Pelatih Saint Kitts dan Nevis Anggap Peringkat FIFA Hanya Angka Jelang Hadapi Indonesia
Malaysia Pangkas Kuota BBM Subsidi Mulai April 2026 Imbas Perang Iran