Krisis Pengungsi Afganistan di Pakistan 2025: Pengusiran, Penyebab & Dampak Terbaru

- Rabu, 05 November 2025 | 12:55 WIB
Krisis Pengungsi Afganistan di Pakistan 2025: Pengusiran, Penyebab & Dampak Terbaru
Krisis Pengungsi Afganistan di Pakistan: Penggerebekan dan Pengusiran Pasca Bentrokan

Krisis Pengungsi Afganistan di Pakistan: Penggerebekan dan Pengusiran Pasca Bentrokan

Pasca bentrokan mematikan antara Taliban dan pasukan Pakistan, pemerintah Islamabad semakin gencar memulangkan migran Afganistan. Upaya ini termasuk melancarkan penggerebekan terhadap toko dan rumah sewaan yang dihuni warga Afganistan, tidak hanya di wilayah perbatasan tetapi juga hingga ke ibu kota Islamabad dan Rawalpindi.

Kondisi ini memicu ketakutan di kalangan pemilik rumah Pakistan. Khawatir akan konsekuensi hukum, banyak yang akhirnya mengusir penyewa Afganistan atau menolak memperpanjang kontrak sewa. Akibatnya, banyak keluarga Afganistan terpaksa mencari tempat tinggal baru dalam situasi yang tidak menentu.

Biaya Hidup dan Birokrasi yang Memberatkan

Warga Afganistan di Pakistan juga menghadapi jalan buntu dalam memperpanjang izin tinggal. Prosesnya dikeluhkan sangat mahal, tidak pasti, dan penuh penundaan. Seorang warga Afganistan yang menyembunyikan identitasnya mengungkapkan, "Kami bersembunyi, keluarga kami tercerai-berai. Bisnis kami terhenti, anak-anak kami berhenti sekolah. Kami bahkan tidak punya waktu untuk memikirkan langkah selanjutnya."

Warga yang Sudah Puluhan Tahun Tinggal di Pakistan Terkejut

Dalam dua minggu terakhir, penggerebekan dilaporkan terjadi di berbagai wilayah permukiman. Tidak hanya itu, polisi Pakistan juga mulai membuat pengumuman di masjid-masjid yang memperingatkan bahwa menyewakan properti kepada migran Afganistan akan dianggap sebagai tindak kriminal.

Kebijakan ini mengejutkan banyak warga Afganistan perkotaan yang telah hidup dan bekerja di Pakistan selama puluhan tahun. Abdullah Khan, seorang insinyur berusia 32 tahun yang lahir di Pakistan, berbagi, "Tempat ini adalah rumah saya. Saya tak pernah membayangkan negara yang telah memberi saya segalanya suatu hari akan memaksa saya pergi. Ini sungguh menyakitkan."

Alasan Keamanan Pemerintah Pakistan

Pemerintah Pakistan membela kebijakannya dengan alasan keamanan. Talal Chaudhry, pejabat senior Kementerian Dalam Negeri Pakistan, menyatakan bahwa meski telah lama menyambut warga Afganistan, mereka yang tinggal ilegal harus pulang. Ia menuduh sebagian dari mereka terlibat dalam militansi dan perdagangan narkotika.

Pengungsi Afganistan sebagai Alat Tawar?

Di sisi lain, aktivis Afganistan, Aziz Gull, menilai bahwa para migran ini dijadikan alat tawar dalam konflik antara Islamabad dan Taliban. "Mengapa mereka yang damai dan tanpa tempat tinggal dianggap ancaman?" tanyanya. Gull menegaskan bahwa warga Afganistan seharusnya tidak menjadi pion dalam ketegangan politik kedua pemerintah.

Kondisi Memprihatinkan: Mengungsi ke Taman Umum

Zahra Mosavi, seorang aktivis yang kini bersembunyi, mengungkapkan praktik pemilik rumah yang mulai memutus pasokan listrik dan gas, serta mengusir penyewa Afganistan tanpa mengembalikan uang jaminan. Ia memperingatkan bahwa beberapa keluarga kini terpaksa mencari perlindungan di taman-taman umum, dengan kondisi yang kian memburuk seiring turunnya suhu udara.

Sejarah Panjang Pengungsian dari Afganistan

Pakistan memiliki sejarah panjang menampung pengungsi Afganistan, dimulai dari era invasi Uni Soviet, perang saudara 1990-an, invasi pimpinan AS, hingga jatuhnya Kabul ke tangan Taliban pada 2021. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, Pakistan bertekad mengurangi jumlah warga Afganistan di wilayahnya.

Data dan Peringatan dari UNHCR

Menurut data UNHCR, lebih dari 1,5 juta warga Afganistan telah meninggalkan Pakistan sejak awal kampanye 2023 hingga pertengahan 2025. Badan PBB tersebut memperkirakan sekitar tiga juta warga Afganistan masih tinggal di Pakistan, dengan 1,4 juta di antaranya memiliki dokumen resmi.

Juru Bicara UNHCR di Pakistan, Qaiser Khan Afridi, menyatakan apresiasi atas keramahan Pakistan selama lebih dari 45 tahun, namun juga menyuarakan keprihatinan mendalam terhadap situasi sulit yang kini dihadapi warga Afganistan di negara tersebut.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar