Iran kembali melewati malam tanpa serangan udara Amerika Serikat pada Minggu (26/7). Penghentian sementara itu terjadi di tengah laporan bahwa kekhawatiran menipisnya amunisi menahan rencana eskalasi lebih lanjut.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya dilaporkan bersiap melancarkan serangan besar-besaran terbaru terhadap Iran. Skala operasi militer ini disebut akan lebih besar dari serangan selama Operation Epic Fury. Dalam wawancara dengan media AS Axios pada Kamis (23/7), Trump mengatakan dirinya hampir mengambil keputusan terkait kemungkinan serangan tersebut, namun belum ada keputusan final.
"Saya sedang mempertimbangkan serangan besar-besaran. Lebih besar dari sebelumnya. Saya hampir mengambil keputusan. Kami sudah siap sepenuhnya untuk itu," kata Trump dalam wawancara tersebut. Ia juga menyebut Israel dapat bergabung dalam operasi itu "hampir seketika" jika diminta.
Dua pejabat AS yang tidak disebut namanya mengatakan secara terpisah kepada Axios bahwa sejauh ini belum ada perintah militer baru yang diberikan.
Berdasarkan laporan The New York Times dan Axios, Trump memutuskan menunda rencana menyerang Iran setelah 13 hari berturut-turut melakukan serangan. Keputusan itu diambil di tengah kekhawatiran bahwa peningkatan perang dapat "secara berbahaya menguras persediaan pencegat rudal Patriot dan amunisi pertahanan udara lainnya di Timur Tengah yang sudah menipis", menurut pejabat pemerintahan Trump. Keputusan tersebut menyusul pertemuan antara Trump, para penasihat utamanya, dan anggota senior kabinetnya pada Jumat lalu.
Artikel Terkait
Iran Peringatkan Perang di Timur Tengah Meluas Jika AS Lanjutkan Serangan
Rupiah Terperosok ke Rp17.963, Tarif Impor AS dan Defisit Dagang Jadi Beban
Indonesia Kena Tarif Impor AS 10%, Menkeu: Kabar Baik
Purbaya Nilai Tarif Impor AS 10% Lebih Baik dari Skema Sebelumnya