Aktivis LSM di Lebak Diduga Diculik dan Dianiaya, Polisi Tetapkan Satu Tersangka

- Rabu, 22 Juli 2026 | 19:55 WIB
Aktivis LSM di Lebak Diduga Diculik dan Dianiaya, Polisi Tetapkan Satu Tersangka

Seorang aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Lebak, Banten, berinisial FT alias Uun, diduga menjadi korban penculikan dan penganiayaan. Polisi telah menetapkan satu orang tersangka dan masih memburu pelaku lain.

Peristiwa itu terekam dalam video yang viral di media sosial. Dalam rekaman, Uun terlihat bertelanjang dada, meringkuk sambil memegangi kepala plontosnya di dalam sebuah mobil. Ia tampak diinterogasi oleh seorang pria yang menuduhnya telah melecehkan dan menghina ketua dewan. Dalam video, Uun mengaku kapok dan bersedia meminta maaf kepada ketua dewan, bahkan menyatakan bersedia dibunuh jika mengulangi perbuatannya.

Uun melaporkan kejadian tersebut ke polisi pada Sabtu (18/7) malam. Kabid Humas Polda Banten Kombes Maruli Ahiles Hutapea membenarkan bahwa laporan telah diterima dan kini dalam tahap penyidikan. "Perkara ini telah ditingkatkan ke tahap penyidikan berdasarkan Laporan Polisi Nomor LP/B/313/VII/SPKT II.DITRESKRIMUM/2026/POLDA BANTEN tanggal 19 Juli 2026. Penyidik terus bekerja secara maksimal untuk mengungkap secara utuh rangkaian peristiwa yang dilaporkan," ujar Maruli pada Rabu (22/7/2026).

Penyidik telah melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan visum et repertum terhadap korban. Beberapa pihak telah dipanggil untuk dimintai keterangan. Saat ini, satu orang tersangka berinisial AS telah diamankan dan menjalani pemeriksaan lebih lanjut. "Penyidik masih melakukan pencarian dan penangkapan terhadap tersangka lainnya yang diduga terlibat. Seluruh pihak yang terbukti memiliki keterlibatan akan dimintai pertanggungjawaban pidana sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," jelas Maruli.

Ketua DPRD Kabupaten Lebak, Juwita Wulandari, membantah telah menyuruh orang untuk menganiaya Uun. Ia menolak dikaitkan dengan peristiwa tersebut. "Saya tidak pernah menyuruh orang untuk melakukan kekerasan tersebut, dan saya tidak pernah komunikasi," kata Juwita. Ia mengaku Uun pernah menghubunginya melalui WhatsApp dengan bahasa yang dinilai tidak beretika, namun tidak ada komunikasi lanjutan. "Cerita awalnya adalah curhatan suami istri. Pak U WhatsApp japri ke saya dengan bahasa yang menurut saya tidak beretika. Saya bilang ke suami, 'Kenapa Pak U lama-lama kasar banget?' Suami saya hanya melihat isi pesannya. Sudah sebatas itu dan tidak ada komunikasi lanjutan," ujarnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags