Spanyol berhasil menjuarai Piala Dunia 2026 setelah mengalahkan Argentina dengan skor 1-0. Kemenangan itu membawa pulang hadiah uang sebesar USD 50 juta atau sekitar Rp 895 miliar. Namun, sebagian besar dari jumlah tersebut terancam dipotong pajak federal Amerika Serikat hingga 30 persen.
Berdasarkan hukum pajak AS, pendapatan yang diperoleh dari aktivitas di dalam negeri umumnya dikenakan pajak oleh Internal Revenue Service (IRS). Pembayaran tertentu kepada atlet asing non-residen, termasuk hadiah turnamen, biasanya dipotong 30 persen kecuali ada perjanjian pajak atau pengecualian khusus.
Kebijakan ini menuai kritik dari sejumlah anggota Kongres AS. Anggota Kongres Tim Burchett menyebutnya sebagai bentuk perampokan.
"Saya rasa ini adalah perampokan," kata Burchett.
Menurut Burchett, potensi beban pajak yang tinggi mengirimkan pesan keliru saat AS bersiap menjadi tuan rumah lebih banyak ajang olahraga internasional. Ia menilai negara seharusnya mendorong atlet dan pengunjung asing untuk membelanjakan uang di dalam negeri, bukan membebani mereka dengan kewajiban pajak yang memberatkan.
"Saya bukan pendukung IRS. Mereka menghasilkan banyak di sini, tapi saya tidak suka itu. Kami ingin mendorong orang-orang datang ke sini dan menghabiskan uang mereka, dan kita mengambil sebagian besar dari itu," ujarnya.
"Kita harus memiliki sistem pajak yang lebih baik," lanjut Burchett.
Anggota Kongres lainnya, Jonathan Jackson, juga mengkritik tarif pajak yang tinggi atas hadiah Spanyol. Ia menilai hal ini menyoroti masalah yang lebih besar dalam sistem perpajakan AS.
"Ini salah, dan ini semacam menyoroti sesuatu yang lebih besar," kata Jackson.
Jackson menambahkan bahwa perusahaan seharusnya membayar lebih banyak pajak dibandingkan pekerja. Menurutnya, ini adalah contoh klasik dari apa yang salah dengan sistem perpajakan AS.
"Mereka seharusnya membayar pajak daripada memiliki celah pajak. Masyarakat, para pekerja yang bekerja, mereka seharusnya tidak membayar 30 persen pajak dari pendapatan mereka," kata Jackson.
Sementara itu, anggota Kongres Burgess Owens sepakat bahwa potongan 30 persen terlalu tinggi. Namun, ia memanfaatkan kesempatan ini untuk menyoroti pentingnya penyelenggaraan Piala Dunia di AS. Sebagai mantan pemain NFL, Owens bercerita bagaimana Piala Dunia membuatnya tertarik pada sepak bola, olahraga yang sebelumnya tidak ia minati.
"Saya sangat menghargai sepak bola sekarang. Saya pikir ini akan menjadi pendobrak bagi banyak anak-anak kita. Jadi, saya ingin mengucapkan selamat kepada presiden (Donald Trump) dan semua orang yang mewujudkan ini. Sayangnya, begitulah kenyataan di negara kita yang penuh pajak ini," kata Owens.
Artikel Terkait
Messi Teredam di Final, Spanyol Juara Piala Dunia 2026
Conor McGregor Kehilangan Rp1,79 Miliar Usai Taruhan Final Piala Dunia Meleset
Emiliano Martinez Buka Peluang Pensiun dari Timnas Usai Kekalahan di Final Piala Dunia 2026
Final Piala Dunia 2026 Tembus 62 Juta Pemirsa AS, Lampaui NFL Musim Reguler