Messi Teredam di Final, Spanyol Juara Piala Dunia 2026

- Rabu, 22 Juli 2026 | 21:30 WIB
Messi Teredam di Final, Spanyol Juara Piala Dunia 2026

Lionel Messi nyaris selalu menjadi pembeda bagi Argentina sepanjang Piala Dunia 2026. Gol, assist, dan aksi magisnya membawa La Albiceleste melangkah mulus ke partai final. Namun, di laga yang paling menentukan, sang megabintang justru tak mampu berbuat banyak.

Final Piala Dunia 2026 di Stadion MetLife, East Rutherford, Amerika Serikat, menjadi panggung kemenangan Spanyol sekaligus malam yang mematahkan dominasi Messi. La Furia Roja menang 1-0 melalui gol Ferran Torres pada babak tambahan waktu dan merebut gelar juara dunia. Lebih dari sekadar kekalahan, pertandingan itu menunjukkan bagaimana sosok yang selama ini dianggap nyaris tak tersentuh akhirnya berhasil diredam.

Sejak fase grup hingga semifinal, Messi selalu terlibat dalam terciptanya gol Argentina, baik sebagai pencetak gol maupun pemberi assist. Salah satu penampilan terbaiknya terjadi saat semifinal melawan Inggris ketika ia menciptakan dua assist yang membawa Argentina membalikkan keadaan menjadi kemenangan 2-1. Namun semua itu berhenti di final.

Spanyol tampil dengan rencana permainan yang nyaris sempurna. Pelatih Luis de la Fuente menjadikan Messi sebagai fokus utama yang harus dimatikan. "Ide pertama kami adalah menjaga Messi tetap terkendali," ujar De la Fuente. Strategi tersebut berjalan efektif. Messi hanya menyentuh bola sebanyak 15 kali pada babak pertama, menjadi jumlah sentuhan terendahnya dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir. Sepanjang pertandingan, kapten Argentina itu hanya membukukan 54 sentuhan, jauh di bawah rata-rata penampilannya selama turnamen.

Tidak hanya Messi yang kehilangan pengaruh, seluruh permainan Argentina ikut lumpuh. Tim asuhan Lionel Scaloni bahkan mencatat statistik yang sangat buruk. Argentina gagal melepaskan satu pun tembakan sepanjang waktu normal dan baru menghasilkan tembakan tepat sasaran pertama pada menit ke-116 di babak tambahan waktu. Sebaliknya, Spanyol tampil dominan dengan terus mengontrol penguasaan bola dan menciptakan sekitar 20 percobaan tembakan, sementara Argentina hanya mampu membalas dengan dua percobaan sepanjang pertandingan.

Rodri bersama lini tengah Spanyol sukses mempersempit ruang gerak Messi. Setiap kali sang kapten menerima bola, selalu ada dua hingga tiga pemain yang langsung menutup ruang sehingga Argentina kesulitan membangun serangan. Bagi Messi, malam itu menjadi salah satu laga paling sunyi dalam karier internasionalnya.

Usai peluit panjang dibunyikan, ia tampak terduduk di lapangan sambil melepas sepatu Adidas edisi khusus bertajuk "Last Tango", seolah menjadi simbol berakhirnya sebuah perjalanan panjang di Piala Dunia. Momen emosional kembali terlihat ketika Messi menerima medali perak. Di hadapan ribuan pendukung Argentina yang memadati Stadion MetLife, pemain berusia 39 tahun itu tak mampu menyembunyikan kesedihannya dan terlihat menitikkan air mata.

Masa depannya bersama Timnas Argentina pun kembali menjadi tanda tanya. Pelatih Lionel Scaloni menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada sang kapten. "Dia sekarang berusia 39 tahun. Dia akan bermain sampai dia memutuskan tidak bermain lagi," kata Scaloni. Meski gagal mempertahankan gelar juara dunia, Scaloni meminta publik tetap memberikan penghormatan kepada Messi atas seluruh pencapaiannya. "Saya berharap semua orang merasa bangga terhadapnya, atas apa yang telah dia capai, karena dia adalah pemain sepak bola terbaik yang pernah menginjakkan kaki di lapangan," ujarnya.

Final Piala Dunia 2026 akhirnya menjadi bukti bahwa sehebat apa pun seorang pemain, sepak bola tetaplah permainan kolektif. Di malam ketika Lionel Messi gagal bersinar, Spanyol menunjukkan bahwa organisasi permainan, disiplin taktik, dan kerja sama tim mampu mengalahkan bahkan pemain terbaik dunia sekalipun.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags