Cina Pangkas Kesenjangan AI, Tantang Dominasi AS dengan Narasi Open Source

- Rabu, 22 Juli 2026 | 13:45 WIB
Cina Pangkas Kesenjangan AI, Tantang Dominasi AS dengan Narasi Open Source

Beijing semakin percaya diri menyaingi Amerika Serikat dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Dalam pidato utama di World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, Presiden Xi Jinping menegaskan ambisi Cina untuk memimpin penetapan standar AI global. Ia mengecam apa yang disebutnya sebagai "perluasan konsep keamanan nasional yang berlebihan," sebuah kritik yang meski tidak menyebut AS secara langsung, jelas ditujukan pada kebijakan Washington yang membatasi akses teknologi.

Xi mendorong pengembangan model AI open source dan "AI inklusif" sebagai fondasi tata kelola global. Langkah ini dipandang sebagai upaya Cina membangun narasi tandingan terhadap dominasi AS yang cenderung tertutup. "KTT Shanghai tahun 2026 ini mengirimkan sinyal penting bahwa AI kini menjadi prioritas politik Beijing," kata Rogier Creemers, asisten profesor di Universitas Leiden, Belanda, yang fokus pada kebijakan teknologi digital Cina. Menurutnya, Cina berniat menantang AS melalui dukungan terhadap model open source dan industrialisasi berbasis AI, sambil berharap meraih dukungan negara-negara Global South.

Kesenjangan Performa Menyempit

Kesenjangan performa antara model AI Cina dan AS disebut semakin mengecil. Media pemerintah Cina awal tahun 2026 menyatakan bahwa perbedaan itu "sebagian besar telah menghilang." Para pakar sepakat, dengan menyebut uji tolok ukur terhadap model bahasa besar (LLM) Cina seperti GLM-5.2 dan Kimi K3 menunjukkan jarak yang nyaris tertutup. "Untuk sebagian besar aplikasi, model AI open-weight terdepan Cina lebih murah dan lebih dari cukup," ujar Paul Triolo, wakil presiden senior untuk Cina di DGA-Albright Stonebridge Group. Namun, model proprietary dari perusahaan AS seperti Anthropic, OpenAI, dan Google masih unggul dalam keamanan dan skalabilitas.

Penerapan AI di perusahaan-perusahaan Cina juga dinilai lebih cepat dibandingkan AS. Triolo menambahkan bahwa tingkat kekhawatiran masyarakat Cina terhadap AI lebih rendah, sehingga adopsi di tingkat konsumen berlangsung lebih mulus.

Blokade AS Dinilai Gagal

Pada Januari 2025, AS memperluas pembatasan ekspor AI melalui "Kerangka Kerja untuk Penyebaran Kecerdasan Buatan," yang mencakup cip komputasi canggih, bobot model, dan akses ke infrastruktur komputasi skala besar. Namun, efektivitas kebijakan ini dipertanyakan. "Kontrol ekspor memang berdampak pada kemampuan Cina memproduksi cip secara domestik, murah, dan dalam skala besar," kata Laila Khawaja, Direktur Riset di Gavekal Research. "Tapi sejumlah besar cip masih masuk ke Cina melalui pasar gelap, dan perusahaan Cina bisa mengakses sumber daya komputasi melalui layanan cloud di luar negeri."

Menurut Triolo, strategi AS untuk memperlambat pengembangan AI canggih Cina telah gagal di banyak level. "Di saat yang sama, hal itu menimbulkan dampak sampingan besar bagi perusahaan AS, terutama pada anggaran riset dan rantai pasokan logam tanah jarang."

Open Source sebagai Senjata Diplomasi

Dalam pidatonya, Xi Jinping menekankan pentingnya "mendorong pengembangan open source." Media pemerintah Cina gencar mempromosikan pesan bahwa Cina "tidak menerapkan blokade teknologi." Model-model AI Cina, seperti DeepSeek, GLM 5.2, dan Kimi K3, sebagian besar dirilis di bawah lisensi MIT yang memungkinkan pengguna mengunduh, memodifikasi, dan mengomersialisasikannya. Creemers mencatat bahwa model-model ini cukup terbuka dalam hal bobot, meski akses ke kode sumber masih terbatas. "Cina berharap negara lain mengadopsi model AI buatannya, sehingga menciptakan pasar luar negeri dan memastikan Beijing tetap menjadi bagian dari gelombang teknologi berikutnya."

WAICO vs Pax Silica

Xi juga mengumumkan bahwa World AI Cooperation Organization (WAICO), inisiatif yang diluncurkan Cina, telah menarik 29 negara anggota. Ia menyebut organisasi itu sebagai "tonggak penting dalam sejarah perkembangan AI" yang merespons seruan Global South untuk peran lebih besar dalam tata kelola AI. WAICO dipandang sebagai tandingan Pax Silica yang dipimpin AS, yang bertujuan mengamankan rantai pasokan AI global dan mineral kritis. "Persaingan sesungguhnya terletak pada bagian mana dari tumpukan teknologi AI yang diadopsi negara-negara Global South," ujar Triolo. Menurutnya, Cina unggul berkat biaya lebih rendah dan infrastruktur digital yang sudah dibangun perusahaan seperti Huawei di banyak negara berkembang.

Masa Depan: Dua Kutub Teknologi

Para pakar meyakini AS akan terus memimpin dalam desain perangkat keras dan kapasitas komputasi, sementara Cina berpotensi unggul dalam inovasi model dan penyebaran AI. Namun, Creemers mengingatkan bahwa kelemahan struktural terbesar Cina adalah kurangnya kepercayaan dari negara-negara Global North. Di sisi lain, pembatasan ekspor AS membuat perusahaan Cina kekurangan perangkat keras canggih, membatasi kemampuan mereka meningkatkan kapasitas inferensi. "Kita perlu memahami bahwa saat ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, kita berhadapan dengan kekuatan teknologi super non-Barat," kata Creemers. Menurutnya, masa depan tidak akan ditentukan oleh satu ranah teknologi global tunggal, melainkan oleh "kompleks jaringan dan proses teknologi yang saling tumpang tindih."

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags