Presiden China Xi Jinping menyerukan komunitas internasional untuk tidak membiarkan satu negara mendominasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Pernyataan itu disampaikan saat membuka World Artificial Intelligence Conference (WAIC) di Shanghai, China, dan menjadi sindiran bagi Amerika Serikat serta Uni Eropa yang selama ini membatasi ekspor teknologi AI ke China dengan alasan keamanan nasional.
Dalam pidatonya, Xi mengajak negara-negara memperkuat kerja sama global demi tata kelola AI yang aman dan adil. Menurutnya, kolaborasi multinasional sangat penting untuk mencegah hegemoni teknologi yang tidak sehat. "Pengembangan AI tidak boleh menjadi pertunjukan solo oleh satu negara tunggal, melainkan sebuah simfoni kerja sama internasional," ujar Xi, seperti dikutip AFP.
Ia juga mendesak negara-negara agar tidak menyalahgunakan konsep keamanan nasional untuk menghambat kemajuan teknologi pihak lain. Di tengah pembatasan ekspor dari AS dan Uni Eropa, China kini berupaya memimpin perumusan regulasi AI di tingkat global.
Tantangan tata kelola teknologi pintar ini menyita perhatian para pakar industri. Founder konsultan Praxis Advisory di Shanghai, Shengyun Lu, menyarankan dunia menerapkan pengawasan ketat terhadap perkembangan AI. "Kita harus meregulasi AI seperti kita meregulasi tenaga nuklir," kata Lu.
Sebagai langkah nyata, China bersama 29 negara, termasuk Indonesia, Rusia, dan Pakistan, sepakat mendirikan Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Buatan Global (WAICO). Lembaga yang bermarkas di Shanghai ini bertujuan memastikan pengembangan AI berjalan secara sehat, aman, dan teratur.
Teknologi AI China
Ajang WAIC menampilkan lebih dari 3.000 produk inovatif dari 1.000 perusahaan teknologi. Beberapa produk unggulan yang menarik perhatian antara lain model bahasa besar Kimi K3 buatan Moonshot AI, model M3 dari MiniMax, hingga infrastruktur komputasi Atlas 950 milik Huawei.
Saat ini, banyak perusahaan global mulai beralih menggunakan model AI sumber terbuka (open-source) dari China, seperti Qwen milik Alibaba. Perusahaan asing memilih model ini karena menawarkan biaya operasional lebih rendah dan fleksibilitas modifikasi yang tinggi jika dibandingkan dengan sistem tertutup milik OpenAI atau Anthropic.
Selain raksasa teknologi seperti Baidu, Tencent, dan ByteDance, jajaran perusahaan rintisan baru seperti DeepSeek dan Zhipu AI juga terus mempercepat inovasi mereka. Langkah ini memperkecil jarak persaingan teknologi antara kubu AS dan China di panggung global.
Artikel Terkait
Indonesia Tegaskan Komitmen Jadi Arsitek Aktif Pengembangan AI Global
Liang Wenfeng Kini Orang Terkaya di Industri AI, Kalahkan Pendiri OpenAI dan Anthropic
Airlangga: AI Berpotensi Dongkrak Ekonomi Indonesia hingga USD 2 Triliun
Airlangga: AI Berpotensi Dongkrak Pendapatan Indonesia hingga Rp 2 Triliun Dolar AS