Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kian meluas ke negara Timur Tengah lainnya. Kuwait, Minggu (19/7/2026), mengumumkan bahwa pertahanan udaranya berhasil mencegat rudal dan drone yang diluncurkan Iran.
Staf Umum militer Kuwait menyebut serangan itu sebagai "agresi Iran yang berdosa". Dalam pernyataan di media sosial, mereka mengatakan, "Setiap ledakan yang terdengar adalah akibat dari sistem pertahanan udara yang mencegat serangan musuh."
Peringatan itu muncul beberapa jam setelah Iran mengklaim telah melancarkan serangan drone skala besar terhadap gudang amunisi di Camp Buehring, yang sebelumnya dikenal sebagai Camp Udairi, dan sistem radar pertahanan udara di Pangkalan Udara Ali Al Salem.
Sebelumnya, militer AS menyatakan telah memulai serangan udara baru terhadap Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan serangan itu dirancang untuk melemahkan kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz dan menghukum pasukan Garda Revolusi Islam yang menyerang anggota militer AS di Yordania.
Dua anggota militer AS tewas dan satu hilang dalam pertempuran tersebut. CENTCOM menyebutkan, "Dua anggota militer AS tewas saat pasukan AS dan sekutu bertahan dari serangan rudal balistik dan pesawat tak berawak Iran." Empat personel lainnya telah dievakuasi ke rumah sakit di Yordania. Identitas korban tewas dan rincian pencarian personel yang hilang belum diungkap.
Iran mengancam akan melanjutkan "operasi serangan berskala penuh" jika AS terus melancarkan serangan. Ancaman itu disampaikan Mayor Jenderal Mohsen Rezaei, pejabat tinggi Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang juga penasihat militer senior untuk pemimpin tertinggi Iran Mojtaba Khamenei.
Artikel Terkait
Iran Laporkan Serangan AS di Lokasi Pembangunan PLTN Darkhovin, IAEA Turun Tangan
Iran Kembali Serang Infrastruktur Vital Kuwait, Dua Hari Beruntun
Iran Klaim Hentikan Dua Kapal di Selat Hormuz, Tuding AS di Balik Pelanggaran
Trump Tak Peduli Lagi dengan Kesepakatan Damai AS-Iran