Lebih dari 72 jam setelah gempa dahsyat mengguncang Venezuela, puluhan ribu orang masih dinyatakan hilang. Komite Penyelamatan Internasional (IRC) menyebut skala respons kemanusiaan tidak sebanding dengan kebutuhan di lapangan. Setelah periode kritis tersebut, peluang bertahan hidup menurun drastis.
Di pelabuhan utama La Guaira, sejumlah ruangan dialihfungsikan menjadi kamar mayat. Andrea Montilla duduk menunggu di kursi plastik, berharap anggota keluarganya dapat mengidentifikasi jenazah sepupu dan neneknya. Sepupunya yang berusia 14 tahun ditemukan di antara puing-puing apartemen tadi malam. "Ini sangat menyakitkan, penantian sangat lama," katanya. Ibu sepupunya itu masih hilang.
Darvin Silva (37) menceritakan perjuangannya menemukan ibunya yang tewas tertimpa tiang bangunan. "Saya harus mengeluarkan ibu saya dengan tangan kosong, dengan palu, dengan kapak... Anda tidak bisa membayangkannya," ujarnya. Wilker Molalla datang untuk mengidentifikasi jenazah. "Sebelas orang tinggal di rumah saya. Hanya dua yang selamat karena saat itu kami sedang bekerja," katanya.
Banyak tim penyelamat baru tiba setelah waktu kritis 72 jam berlalu. "Situasinya cukup kritis," kata Lia Poggio, kepala misi Organisasi Migrasi Internasional (IOM) di Venezuela. Sementara tim internasional dari AS, Meksiko, dan puluhan negara lain bergegas dengan anjing terlatih dan alat berat, warga mulai menguburkan jenazah yang mereka temukan. Kemarahan pun meluas terhadap lambatnya respons pemerintah di tengah krisis ekonomi yang telah melemahkan infrastruktur dan layanan kesehatan.
"Mereka membagikan bantuan, tetapi orang-orang hampir saling membunuh demi makanan... Rasanya seperti sedang beradu," kata Daniela Armas (18), seorang pedagang di La Guaira, setelah mengantre makanan di tempat penampungan darurat.
Jumlah korban dan kerusakan meningkat
Dua gempa berkekuatan 7,2 dan 7,5 magnitudo yang terjadi hanya berselang 39 detik pada 24 Juni 2026 telah menewaskan 1.943 orang dan melukai 10.500 lainnya, menurut ketua parlemen Venezuela, Jorge Rodriguez. Lebih dari 6.400 orang berhasil diselamatkan tim pencarian, namun Rodriguez memperkirakan angka sebenarnya mendekati 20.000 jika termasuk mereka yang keluar sendiri atau dibantu warga. Sekitar 16.000 orang kehilangan tempat tinggal.
NASA memperkirakan sekitar 59.000 bangunan rusak, terdeteksi dari luar angkasa. Tidak semua bangunan didatangi tim penyelamat profesional; kerabat dan tetangga bergotong royong membersihkan puing untuk mengevakuasi korban. "Tidak diragukan jumlah korban jiwa sebenarnya lebih tinggi. Kami mengupayakan evakuasi dan sepakat menyediakan 10.000 kantong jenazah," kata Gianluca Rampolla, koordinator PBB, di Caracas.
Peringatan PBB akan ancaman kelaparan dan penyakit
Badan-badan PBB memperingatkan para penyintas menghadapi kelaparan dan penyakit. Program Pangan Dunia (WFP) telah mendistribusikan pasokan pangan untuk satu bulan kepada 1.200 orang di La Guaira serta mendirikan pusat penyaluran makanan. WFP berupaya menggalang dana sebesar 50 juta dolar AS untuk membantu sekitar 500.000 orang selama tiga bulan.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan sistem kesehatan Venezuela tertekan, dengan setidaknya tiga pusat kesehatan rusak parah dan enam lainnya rusak atau berfungsi sebagian. Ribuan pengungsi berisiko terkena demam kuning dan demam berdarah akibat cakupan vaksinasi rendah, kata juru bicara WHO Christian Lindmeier.
Secercah harapan
Enam hari setelah gempa, seorang anak laki-laki berusia tiga tahun berhasil diselamatkan tim penyelamat Yordania. Ia mendapat pertolongan pertama dan dirawat di rumah sakit. Tim penyelamat El Salvador juga menyelamatkan seorang pria berusia 44 tahun dari reruntuhan pusat perbelanjaan di Maiquetia.
Operasi bantuan digencarkan militer AS
Militer AS mengerahkan lebih dari 900 personel di wilayah gempa, kata Komandan Komando Selatan AS, Jenderal Francis Donovan. 800 personel lainnya bersiaga di Puerto Rico dan CuraƧao. Mereka membantu pencarian dan penyelamatan, mengoperasikan kembali bandara, serta memobilisasi transportasi udara dan laut untuk bantuan kemanusiaan. Donovan menolak berspekulasi soal lama misi, namun menegaskan tidak ada rencana penugasan jangka panjang. "Kami akan pulang begitu tugas selesai."
Misi ini menandai perubahan besar hubungan Venezuela-AS. Pada 3 Januari 2026, militer AS menangkap Presiden Nicolas Maduro dan membawanya ke New York atas tuduhan perdagangan narkoba.
Artikel Terkait
Gempa Kembar Dahsyat di Venezuela Tewaskan Hampir 2.000 Orang, Warga Terancam Wabah Penyakit
Gempa Kembar di Venezuela, Korban Tewas Mendekati 1.500 Jiwa
Ayah dan Anak Selamat Setelah Empat Hari Terjebak di Reruntuhan Gempa Venezuela
Tim SAR Evakuasi Wanita dan Bayi dari Reruntuhan Gempa Venezuela