Prabowo Kalah Empat Kali Pilpres, Mensesneg: Tak Pernah Ganggu Pemimpin Terpilih

- Jumat, 26 Juni 2026 | 23:20 WIB
Prabowo Kalah Empat Kali Pilpres, Mensesneg: Tak Pernah Ganggu Pemimpin Terpilih

Presiden Prabowo Subianto pernah menceritakan pengalamannya kalah empat kali dalam pemilihan presiden. Namun, menurut Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, kekalahan itu tidak pernah membuat Prabowo mengganggu pemimpin yang memegang mandat rakyat. Prasetyo menjelaskan bahwa Prabowo ingin pemilu dipahami sebagai konsensus bersama, bukan sekadar ajang kompetisi.

"Oh tidak, tidak. Jadi konteksnya yang ingin beliau sampaikan bahwa perhelatan pemilu lima tahunan itu adalah konsensus kita bersama-sama," kata Pras kepada wartawan usai Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026, di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat (26/6/2026).

Prasetyo menegaskan bahwa hasil pemilu yang digelar setiap lima tahun merupakan kesepakatan seluruh elemen bangsa. Karena itu, Prabowo selalu menerima keputusan rakyat dan tidak pernah mengganggu pemimpin terpilih. "Ya, ketika itu sebuah hal yang kita sepakati sebagai konsensus bersama-sama, nah itulah jalan yang beliau tempuh selama ini," ujarnya.

Ia menambahkan, sikap itu terlihat sejak Prabowo selesai mengabdikan diri di dunia kemiliteran. Sebelum menjadi pengusaha dan kemudian terjun ke politik, Prabowo sudah memahami bahwa pemilu adalah konsensus. "Makanya, kalau diperhatikan, beliau selepas pensiun, atau selesai mengabdikan diri di dunia kemiliteran, belum jadi pengusaha, kemudian karena beliau mengerti memang konsensusnya seperti itu," kata Pras.

Perjuangan Prabowo untuk mendapatkan mandat rakyat ditempuh melalui jalur politik sesuai mekanisme yang berlaku. Prasetyo membeberkan bahwa perjalanan itu dimulai sejak 2004 hingga akhirnya Prabowo terpilih menjadi presiden di Pilpres 2024. "Tahun 2004 beliau berjuang melalui Partai Golkar, kemudian tahun 2008 beliau mendirikan partai, mengikuti semua mekanisme dan konsensus yang memang sudah disepakati, mendirikan partai politik, maju, menawarkan diri kepada masyarakat untuk meminta mandat dari masyarakat," ujarnya.

"Kemudian pertama belum berhasil, meminta mandat lagi belum berhasil, sampai 4 kali tahun 2024, beliau diberi amanah oleh rakyat yang bisa melalui mekanisme pemilihan dan konstitusional," lanjut Pras.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags