Deutsche Bank Pangkas Prospek Harga Emas, Sinyal The Hawkish The Fed dan Data AS Kuat Jadi Penekan

- Rabu, 24 Juni 2026 | 11:15 WIB
Deutsche Bank Pangkas Prospek Harga Emas, Sinyal The Hawkish The Fed dan Data AS Kuat Jadi Penekan

Deutsche Bank merevisi turun prospek harga emas. Langkah ini diambil seiring sikap hawkish Federal Reserve dan data ekonomi Amerika Serikat yang tetap kuat dua faktor yang dinilai menjadi penekan utama logam mulia tersebut.

Analis Deutsche Bank, Michael Hsueh, menetapkan skenario dasar terbaru harga emas di level USD4.800 per troy ons pada kuartal IV-2026. Target ini dinilai sejalan dengan kebijakan The Fed yang diperkirakan akan menahan suku bunga dalam periode yang lebih panjang dari perkiraan sebelumnya.

Namun, bank investasi asal Jerman itu juga memperingatkan adanya skenario risiko. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga sebanyak tiga hingga empat kali, harga emas berpotensi terperosok hingga USD3.800 per troy ons.

"Proyeksi dasar kami kini berada di level USD4.800 per troy ons pada kuartal IV, konsisten dengan kebijakan The Fed yang mempertahankan suku bunga lebih lama," ujar Michael Hsueh, Rabu, 24 Juni 2026.

Hsueh menilai pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pertama di bawah kepemimpinan Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, memperlihatkan satu sinyal penting: tidak ada penolakan terhadap ekspektasi pasar atas kenaikan suku bunga. Konferensi pers pasca-pertemuan juga membuka peluang perubahan kebijakan yang lebih agresif, didukung rekomendasi aturan Taylor yang disebut berada sekitar 80 basis poin di atas level suku bunga saat ini.

Menurut Deutsche Bank, perbedaan pergerakan harga emas dan minyak pada bulan lalu menjadi titik awal ketika penyesuaian ekspektasi suku bunga mulai mendominasi pembentukan harga emas.

Permintaan investasi tradisional melempem

Selain tekanan dari kebijakan moneter, Deutsche Bank juga mencatat lemahnya dukungan dari permintaan investasi tradisional. Penjualan dana berbasis emas atau exchange traded fund (ETF) masih berlanjut setelah rilis data tenaga kerja nonpertanian AS untuk Mei.

Di pasar berjangka, posisi terbuka tercatat berada di level terendah dalam 17 tahun. Sementara itu, posisi beli bersih lebih dekat ke level terendah tahunan dibandingkan level tertinggi. Kondisi ini menunjukkan minat investor terhadap emas masih terbatas di tengah perubahan ekspektasi suku bunga.

Hsueh juga menyoroti melemahnya dukungan permintaan dari Asia. Premi harga emas di Tiongkok terhadap COMEX kini berbalik menjadi diskon kecil, yang mengindikasikan impor emas berpotensi melemah. Di India, kenaikan pajak pertambahan nilai (PPN) impor emas diperkirakan turut menekan permintaan domestik.

Di tengah pelemahan permintaan investasi, pembelian emas oleh bank sentral masih menjadi faktor penopang utama. Deutsche Bank memperkirakan bank sentral di negara berkembang akan terus meningkatkan kepemilikan emas untuk mengejar ketertinggalan dibanding negara maju. Meski demikian, Hsueh menilai permintaan resmi dari bank sentral belum menunjukkan peningkatan signifikan pada kuartal I-2026.

"Permintaan resmi belum meningkat pada kuartal pertama dan belum cukup kuat untuk menutupi pelemahan permintaan investasi," tuturnya.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar