Wakil Presiden Gibran Rakabuming menegaskan komitmen pemerintah untuk mempercepat revitalisasi sekolah di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) setelah mendengar langsung keluhan warga saat meninjau SD Wolomoni di Desa Niowula, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur. Kunjungan itu menjadi respons atas aspirasi masyarakat yang menyoroti keterbatasan sarana dan prasarana pendidikan di daerah tersebut.
Seorang wali murid menyampaikan secara langsung kebutuhan mendesak yang dirasakan sehari-hari. “Kami minta bantuan pagar sekolah. Karena kami di sini masih pakai kayu damar, bambu, pagar sekolah,” ujarnya. Pernyataan itu mencerminkan kondisi darurat infrastruktur yang masih dihadapi oleh banyak sekolah di kawasan 3T.
Menanggapi hal tersebut, Gibran memastikan bahwa kebutuhan SD Wolomoni akan dimasukkan ke dalam program revitalisasi sekolah yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto. “Pak Presiden punya program revitalisasi sekolah. Ini kita masukkan juga ya,” kata Wapres. Ia menambahkan bahwa sekolah-sekolah di wilayah 3T akan menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan program tersebut. “Pokoknya yang di area 3T ini kita prioritaskan,” tegasnya.
Sementara itu, dalam kunjungan yang sama, Wapres juga meninjau SMP Negeri 1 Ndona. Sekolah tersebut menghadapi berbagai keterbatasan, mulai dari akses jaringan seluler dan internet, ketersediaan air bersih, pagar sekolah, hingga sarana teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Kepala SMP Negeri 1 Ndona, Sofia Ere, menyambut baik rencana revitalisasi tersebut. Menurutnya, perhatian pemerintah sangat dibutuhkan untuk menjawab kebutuhan riil sekolah di wilayah 3T.
“Program revitalisasi untuk daerah 3T sangat membantu karena sasarannya langsung ke sekolah. Kami berharap kebutuhan seperti jaringan internet, sumur bor air bersih, pagar sekolah, dan fasilitas TIK dapat segera terpenuhi,” ujar Sofia.
Di sisi lain, Kepala SD Wolomoni, Yohanes, mengungkapkan bahwa pihaknya siap mendukung digitalisasi pembelajaran. Namun, ia mengakui bahwa keterbatasan akses jaringan seluler dan internet masih menjadi tantangan utama yang harus diatasi. Tanpa dukungan infrastruktur digital yang memadai, transformasi pendidikan di daerah terpencil sulit berjalan optimal.
Artikel Terkait
Gol Cepat Saibari Bawa Maroko Kalahkan Skotlandia 1-0 di Piala Dunia 2026
PDIP Kritik Golkar: Tuding ‘Candu Kekuasaan’ dan Minta Fokus pada Pemadaman Listrik
Brasil Tanpa Neymar Hadapi Haiti di Piala Dunia 2026, Ancelotti Andalkan Vinicius Junior
PKB Dinilai Tak Punya Legitimasi Desak PDIP Soal Sikap Politik Abu-Abu