Tradisi Tumpengan dan Kupatan Warnai Perayaan Tahun Baru Islam di Sejumlah Daerah

- Selasa, 16 Juni 2026 | 21:15 WIB
Tradisi Tumpengan dan Kupatan Warnai Perayaan Tahun Baru Islam di Sejumlah Daerah

Sejumlah daerah di Indonesia menggelar tradisi turun-temurun sebagai ungkapan syukur dalam menyambut Tahun Baru Islam, dengan beragam ritual yang sarat makna spiritual dan kebersamaan. Di Magelang, Jawa Tengah, masyarakat mengadakan tumpengan dan makan bersama di Pondok Pesantren API Tegalrejo sebagai bagian dari rangkaian acara Jauharul Muharrom. Tradisi yang telah berjalan lebih dari dua dekade ini diisi dengan doa bersama serta kenduri tumpeng yang menjadi simbol refleksi spiritual dan harapan.

Tujuan utama dari tradisi ini adalah untuk mengingatkan generasi muda akan pentingnya merayakan tahun baru Islam dengan cara yang bermakna. Kenduri tumpeng, menurut para pengelola pondok, menjadi simbol agar bangsa Indonesia mampu melewati berbagai ujian ekonomi dan sosial di tahun yang baru. Kegiatan ini telah menjadi agenda rutin yang dinanti-nantikan oleh para santri dan warga sekitar setiap pergantian tahun Hijriah.

Sementara itu, di Kabupaten Semarang, warga Kelurahan Sido Mulyo, Kecamatan Ungaran Timur, memiliki cara tersendiri dalam menyambut Tahun Baru Islam. Mereka menggelar tradisi kupatan yang sudah turun-temurun sebagai wujud rasa syukur sekaligus sarana memanjatkan doa untuk keselamatan, kesehatan, dan keberkahan bagi seluruh warga. Tradisi ini menjadi momen yang mempererat tali silaturahmi antarwarga di lingkungan tersebut.

Namun, berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tradisi kupatan kali ini tidak diisi dengan prosesi saling melempar ketupat antarwarga. Warga sepakat untuk menjadikan ketupat sebagai hidangan bersama agar lebih bermanfaat dan tidak terbuang sia-sia. Setiap kepala keluarga membawa ketupat sesuai dengan jumlah anggota keluarganya, lengkap dengan berbagai lauk pendamping.

Usai doa bersama, seluruh hidangan yang terkumpul dinikmati secara gotong royong sebagai wujud kebersamaan dan rasa syukur. Perubahan cara ini justru dinilai lebih bermakna karena menghindari pemborosan makanan sekaligus memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Tradisi kupatan pun tetap lestari dengan nilai-nilai yang semakin relevan bagi kehidupan bermasyarakat.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar