Sebanyak 2.872 jemaah haji dari Debarkasi Banjarmasin, yang mencakup wilayah Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, telah tiba di Tanah Air setelah menuntaskan rangkaian ibadah haji tahun 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Ketua Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Debarkasi Banjarmasin, Eddy Khairani, mengungkapkan bahwa para jemaah tersebut tergabung dalam delapan kelompok terbang (kloter).
"Total jemaah haji yang sudah pulang ke tanah air itu tergabung pada 8 Kloter," ujarnya di Asrama Haji Debarkasi Banjarmasin di Kota Banjarbaru, Senin, 15 Juni 2026.
Eddy menjelaskan, kedatangan jemaah hingga Kloter 08 dari Tanah Suci Arab Saudi telah berlangsung pada 14 Juni 2026. Sementara itu, Kloter 09 mulai diterbangkan dari Jeddah menuju Tanah Air pada hari yang sama dan dijadwalkan tiba di Bandara Internasional Syamsuddin Noor Banjarmasin sekitar pukul 02.20 Wita.
"Jemaah haji Kloter 09 berasal dari Kabupaten Tanah Laut sebanyak 360 orang. Saat ini kita menyiapkan penyambutan kedatangan jemaah haji Kloter 09 tersebut," jelas dia.
Secara keseluruhan, PPIH Embarkasi Banjarmasin melayani keberangkatan dan kepulangan haji dari dua provinsi. Tahun ini, terdapat total 19 kloter yang terdiri dari 14 kloter asal Kalimantan Selatan dan lima kloter dari Kalimantan Tengah, dengan jumlah keseluruhan jemaah mencapai 6.804 orang.
Proses pemulangan jemaah haji Debarkasi Banjarmasin telah dimulai sejak 4 Juni 2026 dan dijadwalkan berlangsung hingga 1 Juli 2026. Menurut Eddy, perjalanan ibadah haji merupakan sebuah perjuangan dan pengorbanan yang penuh makna bagi setiap jemaah.
"Semoga seluruh jemaah menjadi haji dan hajjah yang mabrur serta membawa keberkahan bagi keluarga, masyarakat, daerah dan bangsa," katanya.
Artikel Terkait
Prabowo Terima Apresiasi Presiden Abbas, Tegaskan Komitmen Indonesia pada Solusi Dua Negara
Dialog Wamen Pertanian dengan Mahasiswa UGM Ricuh, Sudaryono Sebut Ada Kelompok yang Ingin Hentikan Forum
Trump Umumkan Kesepakatan Damai dengan Iran, Larang Negara Itu Miliki Senjata Nuklir
Ketua Umum KBPP Polri: Kritik terhadap Pemerintah Itu Sah, Namun Penghinaan Jangan Jadi Budaya Baru Demokrasi