Trader Saham Nekat Rencanakan Penculikan Kakek 70 Tahun di PIK karena Cinta Tak Direstui

- Senin, 15 Juni 2026 | 19:40 WIB
Trader Saham Nekat Rencanakan Penculikan Kakek 70 Tahun di PIK karena Cinta Tak Direstui

Kepolisian mengungkap sosok di balik percobaan penculikan seorang kakek berusia 70 tahun di kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta Utara. Pelaku utama yang berinisial CW (31) diketahui berprofesi sebagai seorang trader atau pedagang saham.

Kapolsek Metro Penjaringan AKBP Agta Bhuwana Putra mengonfirmasi bahwa pekerjaan sehari-hari tersangka adalah wiraswasta di bidang trading. Dalam aksinya, CW tidak bergerak sendirian. Ia mengajak seorang rekannya berinisial FAP (26) yang bekerja sebagai petugas keamanan di tempat gym sebuah apartemen.

Keduanya, menurut Agta, bertemu dan menjalin komunikasi di tempat gym tersebut. CW kemudian meminta bantuan FAP untuk menjalankan aksi penculikan dengan iming-iming hadiah yang menggiurkan.

“Dijanjikan kerja sama, delapan bulan mau dikasih mobil,” ujar Agta saat dihubungi pada Senin (15/6/2026).

Saat ini, kedua pelaku telah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolsek Metro Penjaringan. Mereka dijerat dengan Pasal 17 dan atau Pasal 18 juncto Pasal 450 dan Pasal 471 KUHP.

Di sisi lain, penyidik mengungkap motif di balik percobaan penculikan tersebut. Ternyata, aksi nekat CW dilatarbelakangi oleh persoalan asmara yang tidak direstui.

Agta menjelaskan bahwa CW memiliki hubungan dengan anak korban yang berinisial CKH. Namun, hubungan tersebut ditentang keras oleh korban, GH, karena CW ternyata sudah memiliki istri dan anak.

“Diduga karena masalah asmara atau hubungan yang tidak direstui oleh korban. Tersangka CW selaku otak pelaku ingin membawa dan bertemu secara langsung dengan korban untuk kepentingan pribadi yang berkaitan dengan saudari CKH,” kata Agta kepada wartawan.

Korban, menurut Agta, memutus komunikasi dan memblokir kontak CW setelah mengetahui status pelaku yang telah berkeluarga. Penolakan itulah yang membuat CW nekat merencanakan penculikan.

“Jadi awalnya dia minta ketemu, semenjak akhirnya ayahnya tahu dia punya anak istri, dia di-cutoff. Dia minta untuk ketemu si korban ini cuma sudah diblokir, akhirnya dia nekat,” ujarnya.

Meski demikian, pihak kepolisian tidak serta merta mempercayai pengakuan CW yang mengaku hanya ingin berkomunikasi dengan korban. Agta menegaskan bahwa tindakan menculik seseorang bukanlah cara yang dapat dibenarkan, terlebih terhadap seorang lansia.

“Dia bilangnya mau komunikasi, tapi kondisi bapak sudah usia segitu. Nggak nyulik juga. Itu sudah kekerasan,” imbuhnya. Polisi masih melakukan pendalaman untuk mengungkap kemungkinan motif lain di balik aksi penculikan tersebut.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar