Puasa Sunah Awal Muharam, Ini Keutamaan dan Tata Cara Niatnya

- Sabtu, 13 Juni 2026 | 20:45 WIB
Puasa Sunah Awal Muharam, Ini Keutamaan dan Tata Cara Niatnya

Umat Islam dianjurkan untuk menyambut tahun baru Hijriah, yang jatuh pada 1 Muharam, dengan memperbanyak amalan ibadah, salah satunya adalah berpuasa. Bulan Muharam, yang dikenal sebagai pintu gerbang tahun baru Islam, bukan sekadar penanda pergantian waktu, melainkan juga bulan yang penuh keutamaan dan keberkahan. Dalam ajaran Islam, puasa di bulan ini memiliki kedudukan istimewa dan menjadi salah satu ibadah sunah yang sangat dianjurkan.

Keutamaan puasa Muharam bersumber langsung dari sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Muslim. Dalam hadis tersebut, Rasulullah menyebutkan bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharam. Penyebutan "bulan Allah" secara khusus menegaskan kemuliaan bulan ini di sisi-Nya. Jika Ramadan dikenal sebagai bulan ampunan, maka Muharam menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbarui niat dan memperkuat semangat beramal di awal tahun.

Banyak orang memulai tahun baru dengan berbagai resolusi. Dalam Islam, salah satu resolusi terbaik adalah memperbanyak amal saleh. Dengan berpuasa di awal Muharam, seorang Muslim memiliki peluang besar untuk meraih pahala, membersihkan diri dari dosa-dosa kecil, serta menyambut tahun baru dengan hati yang lebih tenang dan jiwa yang lebih bersih. Ibadah ini menjadi bentuk syukur atas nikmat usia dan kesempatan untuk terus beribadah.

Niat menjadi elemen krusial dalam setiap ibadah, termasuk puasa sunah. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, setiap amal tergantung pada niatnya. Dalam konteks puasa sunah 1 Muharam, niat dapat dilakukan sejak malam hari hingga sebelum tergelincirnya matahari, selama yang bersangkutan belum makan atau melakukan hal yang membatalkan puasa. Meski demikian, meniatkan puasa sejak malam hari tetap dianjurkan agar ibadah lebih sempurna.

Lafaz niat puasa Muharam yang dapat diucapkan adalah, "Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i sunnati Muharram lillāhi ta‘ālā," yang berarti, "Aku niat berpuasa esok hari untuk melaksanakan sunnah Muharam karena Allah Ta'ala." Meskipun lafaz ini boleh diucapkan dengan lisan, yang terpenting adalah keteguhan tekad di dalam hati. Selama hati telah menetapkan niat sejak malam, maka niat tersebut dianggap sah. Dengan niat yang ikhlas, ibadah sekecil apa pun akan bernilai besar di sisi Allah SWT, terlebih puasa yang pahalanya tidak terbatas dan hanya diketahui oleh-Nya.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar