Remaja 19 Tahun Tewas Dikeroyok Empat Teman di Surabaya, Dipicu Sandal Crocs Hilang

- Sabtu, 13 Juni 2026 | 10:15 WIB
Remaja 19 Tahun Tewas Dikeroyok Empat Teman di Surabaya, Dipicu Sandal Crocs Hilang

Seorang remaja berusia 19 tahun, Thomas Julius Kristianto, meregang nyawa setelah dikeroyok oleh empat orang temannya sendiri di Surabaya, Jawa Timur. Peristiwa nahas itu dipicu oleh perselisihan soal sandal merek Crocs yang hilang, dengan nilai kerugian yang disebut-sebut mencapai Rp1,5 juta. Keempat pelaku yang masing-masing berinisial CJF, AAY, KVRL, dan RU kini telah diamankan oleh Polrestabes Surabaya untuk menjalani proses hukum lebih lanjut.

Kasi Humas Polrestabes Surabaya, AKP Hadi Ismanto, membenarkan bahwa keempat tersangka sudah berada dalam tahanan kepolisian. “Ya benar sudah diamankan empat orang pelaku,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Sabtu, 13 Juni 2026. Pernyataan itu sekaligus mengonfirmasi bahwa kasus pengeroyokan yang berujung pada hilangnya nyawa korban telah memasuki tahap penyidikan intensif.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, aksi pengeroyokan terjadi pada Sabtu, 30 Mei 2026, di Jalan Manukan Yoso II, Surabaya. Kakak korban, Hana Novia Kristiani (32), mengungkapkan bahwa persoalan antara adiknya dan para pelaku sudah muncul sejak pertengahan Mei 2026. Menurut Hana, tidak ada utang-piutang antara Thomas dan keempat temannya, melainkan cekcok yang dipicu oleh sandal.

Kronologi bermula saat korban memakai sandal milik salah satu terduga pelaku yang kebetulan berada di rumah teman mereka. Saat itu, Thomas tidak membawa alas kaki dan sepatunya dalam keadaan basah. Namun, setelah teman korban mengetahui sandal tersebut dibawa, mereka mencari dan mendapati bahwa sandal itu telah hilang. Pelaku pun menuntut korban untuk menggantinya dengan sandal baru.

Hana menuturkan bahwa adiknya telah memberikan uang sebesar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu sebagai bentuk ganti rugi. Namun, nominal itu tidak diterima oleh para pelaku karena sandal yang hilang dinilai seharga Rp1,5 juta. Ketidaksepakatan soal nilai ganti rugi inilah yang kemudian memicu emosi dan berujung pada tindakan kekerasan.

“Cuma disayangkan anaknya emosi bahkan berujung melakukan tindakan anarki yang mana menghilangkan nyawa seseorang hanya motif ganti rugi sebuah sandal,” ucap Hana dengan nada penuh penyesalan. Ia berharap kasus ini dapat menjadi pelajaran bagi semua pihak agar tidak menyelesaikan persoalan dengan cara kekerasan.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar