Xi Jinping Kunjungi Korea Utara, Pertemuan Puncak dengan Kim Jong Un di Tengah Kebuntuan Denuklirisasi

- Selasa, 09 Juni 2026 | 06:45 WIB
Xi Jinping Kunjungi Korea Utara, Pertemuan Puncak dengan Kim Jong Un di Tengah Kebuntuan Denuklirisasi

Presiden China, Xi Jinping, memulai kunjungan kenegaraan pertamanya di tahun ini dengan menyambangi Korea Utara, sebuah langkah diplomatik yang langsung mendapat sambutan hangat dari pemimpin tertinggi Pyongyang, Kim Jong Un. Kedatangan Xi di Bandara Pyongyang disambut langsung oleh Kim Jong Un beserta istrinya, Ri Sol-ju, menandai kunjungan pertama pemimpin China tersebut ke Korea Utara dalam kurun waktu tujuh tahun terakhir.

Saat tiba, pesawat Air China yang membawa Xi Jinping dan rombongan disambut dengan upacara militer. Para perwira militer Korea Utara berbaris rapi di atas karpet merah, sementara Kim Jong Un dan Ri Sol-ju berdiri menyambut kedatangan Xi yang didampingi oleh istrinya, Peng Liyuan. Momen tersebut terekam dalam siaran kantor berita China, Xinhua, yang memperlihatkan kedua pemimpin saling berjabat tangan sebelum sekelompok anak-anak memberikan rangkaian bunga kepada Xi dan Peng.

Suasana penyambutan semakin semarak dengan kehadiran spanduk besar bertuliskan “Kami menyambut hangat Kamerad Xi Jinping” yang terpasang di bawah bendera China dan Korea Utara. Dalam sambutannya, Xi Jinping memuji hubungan bilateral yang ia sebut sebagai “persahabatan yang tak tergoyahkan” antara Beijing dan Pyongyang. China, yang merupakan rival geopolitik utama Amerika Serikat, telah lama menjadi mitra dagang utama Korea Utara sekaligus sumber utama dukungan diplomatik dan ekonomi bagi negara yang terisolasi akibat sanksi internasional.

Kunjungan ini berlangsung di tengah dinamika politik global yang kompleks. Sebelumnya, Xi Jinping baru saja menjamu Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin secara terpisah di Beijing. Sementara itu, pembicaraan soal denuklirisasi Semenanjung Korea antara Pyongyang dan Washington masih menemui jalan buntu. Bulan lalu, Gedung Putih menyatakan bahwa Xi dan Trump telah “mengkonfirmasi tujuan bersama mereka untuk melucuti senjata nuklir Korea Utara” dalam pertemuan puncak mereka di Beijing.

Namun, sikap Korea Utara tampak tak bergeming. Kim Yo Jong, saudara perempuan Kim Jong Un, dengan tegas menegaskan bahwa program nuklir Korut merupakan “garis tanpa mundur” yang tidak bisa ditawar. Pernyataan ini menunjukkan betapa besarnya kesenjangan antara harapan internasional dan realitas politik di Pyongyang.

Para pengamat menilai pertemuan puncak antara Xi dan Kim ini memiliki bobot strategis yang sangat besar, tidak hanya bagi hubungan bilateral kedua negara, tetapi juga bagi stabilitas kawasan Asia Timur. “Presiden China tidak mengunjungi Korea Utara hanya karena jadwal biasa. Kunjungan Xi akan berimplikasi pada hubungan China dan Korea Utara,” ujar Leif-Eric Easley, profesor di Universitas Ewha Seoul, dalam analisisnya. Pertemuan ini menjadi sorotan global karena terjadi saat China dan Korea Utara sama-sama menghadapi tekanan dan ketegangan dengan Amerika Serikat.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar