Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengumumkan rencana pemerintah untuk melonggarkan kuota produksi batu bara nasional sebagai respons terhadap lonjakan harga komoditas di pasar global, yang dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran.
Dalam konferensi pers di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026), Bahlil menjelaskan bahwa relaksasi akan dilakukan secara terukur. "Kami akan melakukan relaksasi yang terukur. Artinya, kalau harga (batu bara) bagus, kami akan meningkatkan produksi," ujarnya.
Menurut Bahlil, kebijakan ini merupakan strategi adaptif pemerintah terhadap dinamika pasar internasional. Lonjakan harga batu bara saat ini dinilai sebagai momentum yang harus dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan keuntungan bagi semua pihak. "Harga bagus, produksi kita juga harus banyak. Supaya pengusahanya untung, negara untung, rakyatnya juga bisa mendapat dampak positif," kata Bahlil.
Sebagai gambaran, Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode I Juni 2026 telah ditetapkan sebesar 121,83 dolar AS per ton. Angka ini meningkat dibandingkan HBA periode II Mei 2026 yang tercatat 116,32 dolar AS per ton. Meski demikian, Bahlil mengaku pemerintah belum menetapkan angka pasti mengenai tambahan kuota produksi. "Nanti kami lihat perkembangannya," tambahnya.
Kebijakan ini merupakan pembalikan arah dari langkah yang diambil pada awal 2026. Kala itu, Kementerian ESDM mematok target produksi batu bara di kisaran 600 juta ton, turun 190 juta ton dari realisasi produksi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton. Pemangkasan kuota tersebut dilakukan akibat ketidakseimbangan pasokan dan permintaan global sepanjang 2025, yang sempat menyeret harga batu bara jatuh ke level 97,65 dolar AS per ton pada Juli 2025.
Situasi pasar berubah drastis sejak pecahnya ketegangan di Timur Tengah pada awal Maret 2026. Konflik tersebut mengganggu jalur distribusi minyak mentah dan gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) global. Akibatnya, harga batu bara meroket tajam dari di bawah 120 dolar AS per ton menjadi di atas 130 dolar AS per ton hanya dalam waktu sepekan, sebelum akhirnya bergerak stabil di angka 121,83 dolar AS per ton pada awal Juni ini.
Artikel Terkait
Gubernur Jateng Terbitkan Perkada untuk Realokasi Anggaran Perbaikan Jalan Tanpa Tunggu APBD Perubahan 2026
Mantan Wakil Kepala BGN Ajukan Justice Collaborator, Siap Bongkar 20 Nama dalam Korupsi Makan Bergizi Gratis
Mantan Wakil Kepala BGN Ajukan Diri sebagai Justice Collaborator, Siap Bongkar 20 Lebih Nama di Kasus Korupsi Makan Bergizi Gratis
Wakil Kepala BGN Trenggono Ajukan Pensiun Dini dari TNI Usai Dilantik Prabowo