Menteri Koperasi: Koperasi Jadi Ujung Tombak Transformasi Ekonomi Pancasila Era Prabowo

- Sabtu, 06 Juni 2026 | 13:15 WIB
Menteri Koperasi: Koperasi Jadi Ujung Tombak Transformasi Ekonomi Pancasila Era Prabowo

Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan bahwa koperasi menjadi ujung tombak transformasi ekonomi Pancasila yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sistem ekonomi gotong royong dinilai paling sesuai dengan jiwa dan konstitusi Undang-Undang Dasar 1945, khususnya Pasal 33 yang mengamanatkan perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan.

“Bapak Presiden Prabowo Subianto telah menyampaikan keinginan kuat untuk melakukan transformasi ekonomi kembali ke Ekonomi Pancasila. Kami di Kementerian Koperasi mendapatkan amanah besar karena koperasi adalah ujung tombak dari transformasi ini,” ujar Ferry dalam keterangan resmi yang diterima pada Sabtu (6/6/2026).

Pernyataan itu disampaikan saat memberikan sambutan pada acara Peluncuran Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia dan Malam Budaya memperingati Hari Lahir Bung Karno di Pitaloka Sanur, Bali, Jumat (5/6) malam. Di hadapan para pengurus dan anggota koperasi, Ferry mengakui bahwa tantangan di lapangan tidak ringan meskipun nilai-nilai yang diusung sudah luhur.

Salah satu hambatan nyata yang dihadapi saat ini adalah maraknya gempuran produk impor, mulai dari kain hingga pakaian bekas. Sebagai solusi konkret, Ferry mendorong Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia berkolaborasi aktif dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) guna membangun ekosistem produksi yang mandiri.

“Saya mendorong Koperasi Laskar Juang untuk menginisiasi pembukaan lahan perkebunan kapas sendiri, pabrik tekstil, hingga garmen. Kita harus mampu memproduksi bahan baku secara mandiri melalui badan usaha koperasi,” jelasnya.

Senada dengan Ferry, Anggota Komisi XIII DPR RI sekaligus Ketua Koperasi Nasional Laskar Juang Indonesia, Rieke Diah Pitaloka, menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar tempat mencari keuntungan finansial. “Koperasi ini lahir bukan untuk memperkaya segelintir orang, melainkan untuk memperkuat rakyat. Ini adalah alat perjuangan ideologis untuk membangun kedaulatan ekonomi yang bertumpu pada kepemilikan bersama,” kata Rieke.

Memanfaatkan momentum menyambut Hari Lahir Bung Karno pada 6 Juni, Rieke mengingatkan kembali amanat Sang Proklamator pada tahun 1965 bahwa koperasi adalah sekolah gotong royong dan solidaritas. Menurutnya, koperasi harus hadir mengorganisir petani, nelayan, pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), hingga generasi muda agar memiliki daya tawar tinggi di tengah dominasi modal besar.

“Target utama kita ke depan adalah memutus ketergantungan terhadap luar negeri. Kita harus mampu memproduksi, mengolah, dan menguasai rantai nilai ekonomi sendiri. Inilah esensi sejati dari semangat ‘Berdikari’, berdiri di atas kaki sendiri,” tegasnya.

Sementara itu, geliat ekonomi kreatif di Bali turut mendapat sambutan positif. Ketua Badan Pengurus Daerah (BPD) APPMI Provinsi Bali terpilih, Kadek Wira Dika, berkomitmen penuh untuk membawa wastra tradisional khas Pulau Dewata menembus pasar mode internasional. “Bali memikul tanggung jawab besar untuk mengangkat kearifan lokal, khususnya melestarikan dan mengembangkan wastra seperti endek, tenun, dan songket agar semakin mendunia,” ungkap Kadek Wira dalam sambutan perdana usai dilantik.

Kadek Wira juga menyampaikan apresiasi kepada Rieke Diah Pitaloka atas fasilitas dan dukungan penuh terhadap pelantikan pengurus baru ini. Ia mengajak seluruh perancang di Bali menjadikan asosiasi tersebut sebagai wadah produktif untuk mengembangkan potensi lokal.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar