Damkarmat BPBD Gunungkidul menggunakan pendekatan humor untuk mengedukasi warga agar tidak membakar lahan sembarangan. Di musim kemarau, praktik tersebut berpotensi memicu kebakaran.
Dalam video yang diunggah di akun resmi mereka, empat petugas damkar lengkap dengan mobil pemadam mendatangi seorang warga yang hendak membakar lahan. Tanpa sepatah kata pun, mereka terus memperhatikan warga tersebut hingga akhirnya menyiramnya dengan air. Baru setelah itu petugas menyampaikan imbauan.
Kasubag TU UPT Damkarmat Gunungkidul, Ngadiyono, mengatakan ide video unik ini muncul dari tingginya potensi kebakaran lahan dan hutan di Gunungkidul akibat musim kemarau. “Sosialisasi dan informasi pencegahan sering kami sampaikan kepada masyarakat, dan kali ini kami mencoba melalui medsos iklan layanan masyarakat dengan konsep parodi tanpa suara, dengan harapan pesan dapat tersampaikan,” kata Ngadiyono, Selasa (21/7).
Respons positif dari masyarakat pun tak terduga. “Dengan respons positif yang diterima oleh masyarakat harapannya bisa menjadi perhatian dan mengurangi jumlah kejadian kebakaran,” ujarnya.
Kebakaran Lahan Meningkat
Ngadiyono menuturkan, tahun ini terjadi peningkatan kebakaran lahan dan hutan. Pada 2025 tercatat empat kebakaran lahan, sementara pada 2026 sudah terjadi delapan kali. “Tahun 2026 kebakaran lahan sampai kemarin sudah tercatat delapan kali, ini perlu peningkatan kewaspadaan mengingat peringatan dari BMKG memprediksi musim kemarau tahun ini masih akan berlangsung,” katanya.
Delapan kebakaran itu mayoritas disebabkan oleh warga yang sembarangan membakar sampah dedaunan kering. “Dari hasil laporan yang kami terima rata-rata disebabkan aktivitas masyarakat yang membakar sampah, karena ada kelalaian sehingga api membesar dan membakar lahan,” ujarnya.
Bahaya Pembakaran Lahan
Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Purwono menjelaskan, kondisi cuaca kemarau dan karakteristik wilayah Gunungkidul yang didominasi kawasan karst dan lahan kering membuat warga diimbau tidak membakar lahan. “Bahaya pembakaran lahan, memicu kebakaran hutan dan lahan. Api cepat merambat karena angin kencang dan vegetasi kering,” kata Purwono.
Pembakaran lahan juga merusak ekosistem karst. Tanah menjadi gersang, resapan air berkurang, dan rawan longsor. “Lalu, mencemari udara. Asap menyebabkan ISPA, gangguan pernapasan, dan mengganggu jarak pandang di jalan,” katanya.
Jika kebakaran terjadi, warga sendiri yang rugi karena dapat menghanguskan tanaman, ternak, rumah, dan infrastruktur. “Bersihkan lahan dengan cara mekanis, bukan dibakar. Komposkan dedaunan dan sisa pertanian dengan cara ditimbun dalam lubang akan berfungsi menjadi pupuk,” pungkasnya.
Artikel Terkait
Pemadaman Kebakaran TPA Jatiwaringin Capai 45 Persen, 300 Personel Dikerahkan