Lampion Waisak di Bundaran HI Jadi Jembatan Toleransi dan Wisata Urban Ramah Kantong

- Minggu, 31 Mei 2026 | 17:45 WIB
Lampion Waisak di Bundaran HI Jadi Jembatan Toleransi dan Wisata Urban Ramah Kantong

Pendar cahaya lampion yang menghiasi sudut-sudut ibu kota pada perayaan Hari Raya Waisak tidak hanya mempercantik wajah Jakarta di malam hari. Bagi warga lintas agama yang memadati ruang publik, instalasi tematik ini menjelma menjadi jembatan emosi yang merajut toleransi sekaligus menawarkan destinasi rekreasi yang ramah di kantong saat libur panjang.

Salah seorang pengunjung, Tiva, warga Jakarta, mengaku langsung terpukau saat pertama kali melintasi instalasi bertajuk “Illumination of Jakarta, Glow of Peace” di kawasan Bundaran HI, Minggu, 31 Mei 2026. Meski tidak beragama Buddha, ia merasa estetika lampion yang hangat mampu membangkitkan rasa penasaran dan apresiasi mendalam terhadap hari besar keagamaan saudara sebangsanya.

"Bisa kayak nge-share pesan juga ke teman-teman aku yang merayakan Waisak lewat instalasi ini," tuturnya.

Bagi Tiva, mengabadikan visual lampion melalui gawai menjadi cara baru untuk menyampaikan ucapan selamat yang lebih personal dan menyentuh. Ia menambahkan bahwa daya tarik visual instalasi itu sangat kuat, sehingga pelataran pedestrian di Bundaran HI berubah menjadi panggung swafoto massal yang ramai dikunjungi.

"Sebenarnya kalau menurut aku sih menarik kalau untuk spot foto-foto juga bagi wisatawan. Karena memang aku sendiri pas kulihat ini tuh salfok saja, langsung kayak ingin foto," jelasnya sambil tersenyum.

Di matanya, ruang terbuka publik yang ditata secara estetik dan inklusif seperti ini terasa aman, ramah, dan cocok dijadikan alternatif wisata urban yang menyegarkan di tengah hiruk-pikuk kota. Namun, lebih dari sekadar berburu latar foto yang ciamik, kehadiran ornamen keagamaan di pusat mobilitas warga ini mengemban misi yang jauh lebih mulia.

Ruang publik secara tidak langsung telah mengambil peran sebagai ruang kelas terbuka tanpa sekat. Masyarakat awam, yang sebelumnya mungkin asing dengan tradisi Buddhis, mulai meraba dan menyelami makna di balik ritual keagamaan yang ada.

"Orang juga jadi tahu perayaan Waisak itu identik dengan apa," imbuh Tiva.

Melalui pendaran lampion yang benderang, warga yang awalnya tidak familier dengan tradisi Buddhis kini pulang dengan membawa pemahaman baru yang lebih hangat. Jakarta malam itu membuktikan bahwa dari sekat-sekat ruang publik yang terbuka bagi semua kalangan, benih-benih kepedulian dan rasa saling menghargai antarumat beragama dapat tumbuh subur secara natural.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler