Iran Tutup Kafe di Pusat Teheran karena Dituduh Promosikan Aktivitas Pemujaan Setan

- Minggu, 31 Mei 2026 | 17:35 WIB
Iran Tutup Kafe di Pusat Teheran karena Dituduh Promosikan Aktivitas Pemujaan Setan

Otoritas Iran menutup sebuah kafe di pusat Kota Teheran setelah tempat tersebut dituduh menjadi sarang promosi aktivitas yang disebut “satanis” atau pemujaan setan. Langkah penertiban itu dilakukan di tengah ketatnya pengawasan pemerintah terhadap segala bentuk kegiatan yang dinilai bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Berdasarkan laporan kantor berita Fars yang dikutip oleh AFP pada Minggu (31/5/2026), kafe tersebut berlokasi di Jalan Valiasr, salah satu ruas jalan paling terkenal di ibu kota Iran. Tempat itu disebut-sebut pernah menyelenggarakan acara yang menampilkan musik bergaya Barat, yang oleh pihak berwenang dinilai “menyediakan latar bagi perilaku abnormal.”

Sementara itu, kantor berita Mehr melaporkan bahwa polisi menuduh para pengunjung kafe terlibat dalam apa yang mereka sebut sebagai “gerakan setan.” Tuduhan ini memperkuat kecurigaan aparat terhadap aktivitas yang dianggap menyimpang dari norma agama dan sosial yang berlaku di Republik Islam tersebut.

Sebuah video berdurasi 14 detik tanpa suara yang disiarkan oleh kantor berita Tasnim memperlihatkan suasana di dalam kafe yang penuh sesak. Dalam rekaman itu, beberapa pemain musik tampak memetik gitar, sementara sejumlah pelanggan duduk sambil menganggukkan kepala mengikuti irama lagu.

Penutupan kafe ini bukanlah peristiwa yang terisolasi. Otoritas Iran memiliki catatan panjang dalam melakukan penggerebekan dan penangkapan terhadap perkumpulan atau jaringan yang dituduh mempromosikan “satanisme.” Di masa lalu, beberapa konser musik rock dan heavy metal juga pernah dilabeli sebagai acara yang bernuansa pemujaan setan.

Republik Islam Iran memang dikenal memiliki sejarah dalam menindak tegas aktivitas yang dianggap bertentangan dengan nilai-nilai Islam atau dianggap terlalu dipengaruhi oleh budaya Barat. Langkah terbaru ini menjadi bukti bahwa pengawasan terhadap pengaruh budaya asing masih menjadi prioritas utama aparat keamanan setempat.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler