Militer Amerika Serikat menyatakan kesiapannya untuk kembali terlibat dalam pertempuran di kawasan Teluk jika situasi memerlukannya, sebuah pernyataan yang disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth di tengah ketegangan yang masih membayangi wilayah tersebut. Hegseth mengklaim bahwa saat ini AS berada dalam posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan pada hari-hari awal konflik, sehingga mampu merespons setiap perkembangan dengan lebih efektif.
“Kami fokus pada kesiapan dan persiapan untuk kembali terlibat jika perlu,” ujar Hegseth dalam kunjungannya ke Singapura, seperti dilansir CNN Internasional pada Minggu (31/5/2026). Pernyataan itu menegaskan bahwa meskipun gencatan senjata telah berlangsung sejak April, Washington tetap menjaga kewaspadaan tinggi terhadap kemungkinan eskalasi.
Di sisi lain, Presiden Donald Trump justru menunjukkan kecenderungan untuk menghindari konfrontasi militer lebih lanjut. Hegseth menjelaskan bahwa tujuan utama Trump adalah memastikan Iran tidak memiliki kemampuan untuk mengembangkan senjata nuklir. “Target tersebut sama sekali tidak berubah,” tegasnya.
Menurut Hegseth, pembicaraan yang telah berlangsung selama ini bersifat produktif. Ia menyebut bahwa pihak Iran tampaknya sudah memahami arah negosiasi. “Saya pikir mereka tahu ke mana arahnya,” katanya. Lebih lanjut, ia menambahkan, “Mereka ingin mengatakan bahwa mereka mengendalikan Selat Hormuz, tetapi kitalah yang mengendalikannya.”
Sebelumnya, dalam forum Dialog Shangri-La di Singapura, Hegseth menyampaikan bahwa Trump bersabar untuk memastikan setiap pakta perdamaian dengan Iran benar-benar menjamin bahwa negara tersebut tidak akan memperoleh senjata nuklir. Ia juga memberikan peringatan terbuka. “Jika Iran tidak ingin membuat kesepakatan besar yang memastikan mereka tidak mendapatkan senjata nuklir, mereka dapat berurusan dengan militer AS,” ujarnya. Hegseth menambahkan bahwa persediaan senjata AS saat ini sudah lebih dari cukup untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut.
Sementara itu, Gedung Putih telah memberi sinyal bahwa Trump hampir mengambil keputusan terkait potensi kesepakatan dengan Iran. Namun, Teheran membantah adanya kesepakatan akhir untuk mengakhiri konflik. Sumber-sumber AS menyebutkan bahwa kesepakatan itu masih menunggu persetujuan Trump, dan ia belum mengambil keputusan setelah pertemuan di Ruang Situasi Gedung Putih pada hari Jumat.
Di tengah dinamika diplomasi tersebut, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan bahwa pasukan Amerika “tetap hadir dan waspada di seluruh wilayah.” Meskipun gencatan senjata sebagian besar telah bertahan sejak April, ketegangan masih sesekali meningkat. Kantor berita negara Iran, IRNA, melaporkan bahwa pertahanan udara Iran menembak jatuh sebuah drone yang disebut sebagai milik “musuh agresor Zionis-AS” pada hari Sabtu, mengutip pernyataan militer.
Diplomasi terus berjalan, termasuk upaya untuk menghentikan pertempuran paralel di Lebanon. Iran menegaskan bahwa Lebanon harus menjadi bagian dari setiap kesepakatan untuk mengakhiri perang. Situasi di lapangan menunjukkan bahwa pasukan Israel telah maju lebih jauh, bahkan ketika delegasi militer dari kedua negara bertemu di Pentagon pada hari Jumat.
Artikel Terkait
Polisi Kantongi Identitas Penjambret WNA Jerman di Surabaya, Pelaku Masih Diburu
Polisi Tetapkan Pasutri Pemilik Wedding Organizer di Jakarta Timur sebagai Tersangka Penipuan Puluhan Calon Pengantin
Serangan Udara Israel di Lebanon Selatan Tewaskan Sembilan Pengungsi Suriah, Enam di Antaranya Anak-Anak
KBRI Phnom Penh Berhasil Hapus Denda Overstay bagi 5.950 WNI Korban Penipuan Daring di Kamboja