Pelemahan Rupiah Dinilai Jadi Peluang Emas Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Mancanegara

- Minggu, 31 Mei 2026 | 11:45 WIB
Pelemahan Rupiah Dinilai Jadi Peluang Emas Tingkatkan Kunjungan Wisatawan Mancanegara

Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat justru dinilai menjadi peluang emas bagi sektor pariwisata Indonesia. Wakil Menteri Pariwisata, Ni Luh Puspa, menyatakan bahwa kondisi ini secara langsung meningkatkan daya tarik Indonesia di mata wisatawan mancanegara.

“Iya kami melihat ini (pelemahan rupiah) menjadi satu peluang bagi Indonesia bahwa ini akan membuat Indonesia memiliki daya tarik yang lebih bagi wisatawan,” ujar Ni Luh Puspa dalam pameran perjalanan wisata Bali & Beyond Travel Fair (BBTF) 2026, Minggu, 31 Mei 2026.

Menurutnya, dengan kurs rupiah yang berlaku saat ini, wisatawan asing akan cenderung memilih Indonesia sebagai destinasi utama. Bahkan, mereka dinilai bersedia untuk menghabiskan waktu berlibur lebih lama dibandingkan sebelumnya. “Jadi saya rasa bahwa situasi yang ada ini menjadi suatu peluang bagi Indonesia bahwa Indonesia menjadi memiliki daya tarik yang lebih untuk dikunjungi dengan lama tinggal yang bisa lebih lama begitu dari biasanya, luar biasa,” jelas Ni Luh Puspa.

Untuk memaksimalkan momentum tersebut, Kementerian Pariwisata gencar melakukan promosi. Berbagai misi penjualan dan partisipasi dalam pameran internasional terus digalakkan dengan harapan mampu mendongkrak angka kunjungan wisatawan mancanegara.

Sementara itu, jika ditelisik lebih jauh, Ni Luh Puspa menjelaskan bahwa pelemahan rupiah tidak terlepas dari dinamika geopolitik global, termasuk konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah. Meskipun demikian, ia mencatat bahwa situasi kepariwisataan Indonesia pada periode Januari hingga Maret 2026 masih terjaga. Bahkan, jumlah kunjungan pada triwulan pertama tahun ini tercatat meningkat jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2025.

Pemerintah pun berharap Bank Indonesia dapat mencatatkan hasil positif pada triwulan kedua 2026, baik dari sisi jumlah kunjungan maupun devisa pariwisata yang dihasilkan.

Di tengah situasi global yang penuh tantangan, Wamenpar mengajak para pelaku usaha pariwisata untuk melakukan pergeseran strategi pasar. Jika sebelumnya banyak yang menyasar negara-negara jarak jauh, kini ia mendorong penguatan kunjungan dari negara-negara tetangga.

“Perkuat bagaimana agar short-haul dan medium-haul ini bisa mengalami peningkatan, tentu ini menjadi substitusi dari pasar Eropa maupun pasar Amerika dan Timur Tengah yang mengalami penurunan akibat situasi geopolitik,” ujar dia.

Ni Luh Puspa menambahkan, data dari triwulan pertama memang menunjukkan adanya peningkatan jumlah wisatawan dari kategori jarak pendek dan menengah. Namun di sisi lain, kunjungan dari kawasan Timur Tengah justru mengalami penurunan. “Tapi kalau kami lihat dari angka triwulan pertama, memang terlihat wisatawan dari yang medium-haul dan short-haul ini mengalami peningkatan, tapi beberapa Timur Tengah ini mengalami penurunan,” sambungnya.

Menghadapi kondisi tersebut, Wamenpar mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata untuk tidak pesimistis. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dan sikap optimistis dalam meraih pencapaian dari setiap peluang yang muncul di tengah situasi yang ada.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler