Denjaka, Pasukan Elite TNI AL yang Bikin Navy Seal Bergidik, Lahir dari Seleksi Enam Bulan Nyaris Manusiawi

- Minggu, 24 Mei 2026 | 06:30 WIB
Denjaka, Pasukan Elite TNI AL yang Bikin Navy Seal Bergidik, Lahir dari Seleksi Enam Bulan Nyaris Manusiawi

Detasemen Jala Mangkara, atau yang lebih dikenal dengan singkatan Denjaka, menjelma sebagai salah satu unit tempur paling ditakuti di kancah militer global. Pasukan elite matra laut Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) ini kerap membuat pasukan khusus negara adidaya, termasuk Navy Seal Amerika Serikat, bergidik dalam berbagai skenario latihan bersama yang ekstrem dan berbahaya. Reputasi ini tidak lahir begitu saja, melainkan ditempa melalui serangkaian proses seleksi dan pendidikan yang melampaui batas kemampuan manusia biasa.

Denjaka merupakan satuan gabungan yang memadukan dua kekuatan elite TNI AL, yakni Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib). Pembentukan pasukan ini sejak awal ditujukan untuk penanggulangan teror di aspek laut, namun kemampuan operasionalnya tidak terbatas pada perairan. Unit antiteror ini juga diandalkan untuk bertempur di medan darat dan udara, menjadikannya pasukan tri-matra yang siap diterjunkan dalam berbagai kondisi.

Menjadi bagian dari Denjaka bukanlah perkara mudah. Tidak sembarang prajurit dapat mengenakan baret merah marun kebanggaan satuan ini. Setiap calon harus melewati seleksi yang sangat keras dan ketat selama enam bulan penuh. Dari ribuan pendaftar, hanya sekitar 50 prajurit pilihan yang dinyatakan lulus dan resmi tergabung dalam pasukan yang mengusung semboyan "Satya Wira Dharma" ini.

Proses pendidikan calon prajurit Denjaka berlangsung di Bumi Marinir Cilandak, Jakarta Selatan, serta ditempa di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Situbondo, Jawa Timur. Selama masa pendidikan, para siswa tidak hanya digembleng secara fisik, tetapi juga ditempa secara mental. Mereka wajib menguasai berbagai teknik operasi tempur, termasuk penyusupan di laut, sungai, hutan, dan medan berat lainnya.

Latihan yang dijalani kerap berada di luar batas kewajaran. Para siswa, misalnya, harus menyelamatkan diri setelah dibuang ke laut lepas. Dalam skenario lain, mereka diikat tangan dan kakinya lalu dilemparkan ke dalam air, dan dituntut untuk membebaskan diri dalam hitungan menit. Latihan ini dirancang untuk membangun insting bertahan hidup dan ketenangan dalam situasi genting.

Di darat, calon pasukan Denjaka juga menjalani latihan survival di hutan belantara. Mereka dilepas selama berhari-hari di tengah hutan lebat tanpa dibekali makanan. Dalam kondisi tersebut, mereka dituntut untuk bertahan hidup dengan mengandalkan apa yang disediakan alam, mulai dari mencari buah hingga berburu hewan kecil.

Sementara itu, aspek udara tidak luput dari kurikulum pelatihan. Para prajurit dilatih melakukan terjun bebas pada malam hari dan mendarat tepat di lokasi yang telah ditentukan tanpa diketahui musuh. Kemampuan ini menjadi kunci dalam operasi penyusupan senyap yang menjadi ciri khas Denjaka.

Di luar penguasaan ilmu bertempur, setiap prajurit Denjaka juga dibekali ilmu kejiwaan dan kemampuan analisis situasi khusus. Hal ini penting karena satuan ini dibentuk untuk bertugas dalam operasi penyusupan di daerah musuh secara senyap dan mematikan. Kombinasi antara fisik yang tahan banting, kecerdasan luar biasa, serta mental baja menjadikan prajurit Denjaka sebagai salah satu ujung tombak pertahanan negara yang paling disegani.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar