Menteri Israel Itamar Ben Gvir Kecam Dunia Usai Ejek Aktivis Armada Bantuan Gaza yang Ditahan

- Kamis, 21 Mei 2026 | 15:40 WIB
Menteri Israel Itamar Ben Gvir Kecam Dunia Usai Ejek Aktivis Armada Bantuan Gaza yang Ditahan

Seorang menteri sayap kanan Israel memicu gelombang kecaman internasional setelah mengunggah video yang memperlihatkan dirinya mengejek para aktivis armada bantuan Gaza yang ditahan dengan tangan terikat. Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, mengunggah rekaman tersebut di platform media sosial X, menunjukkan dirinya berdiri di atas kapal militer sambil melambaikan bendera Israel di hadapan para tahanan yang menyungkur.

“Begitulah cara kami menyambut para pendukung terorisme. Selamat datang di Israel,” kata Ben Gvir dalam video yang langsung menuai reaksi keras dari berbagai negara. Para aktivis tersebut merupakan bagian dari misi Freedom Flotilla, armada bantuan kemanusiaan yang tengah berlayar menuju Jalur Gaza. Angkatan Laut Israel mencegat kapal mereka pada Senin, 18 Mei lalu.

Lembaga bantuan hukum berbasis di Israel, Adalah, menyatakan bahwa para aktivis ditahan di pelabuhan Ashdod dan dibawa masuk ke Israel tanpa persetujuan mereka. Tim pengacara Adalah telah mendatangi lokasi untuk memberikan konsultasi hukum. Sementara itu, penyelenggara armada bantuan Gaza melaporkan bahwa para aktivis akan dipindahkan ke penjara Ketziot di Gurun Negev, Israel selatan, dan Adalah dapat menemui mereka begitu tiba di sana.

Pemerintah Italia menjadi salah satu yang paling vokal dalam mengecam tindakan tersebut. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, menyatakan bahwa perlakuan terhadap para aktivis tidak dapat ditoleransi. “Ada banyak warga negara Italia di sana yang diperlakukan tidak sesuai martabat sebagai manusia,” ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi. Italia juga akan memanggil duta besar Israel untuk meminta penjelasan.

Duta Besar Jerman untuk Israel, Steffen Seibert, menyebut perlakuan Ben Gvir sebagai tindakan yang sangat tidak bisa diterima dan tidak sejalan dengan nilai-nilai dasar negaranya. Menteri Luar Negeri Prancis, Jean-Noel Barrot, telah memanggil duta besar Israel di Paris dan menegaskan bahwa tindakan tersebut bahkan dikecam oleh rekan-rekan Ben Gvir sendiri di pemerintahan Israel. “Ini tidak bisa diterima,” tulis Barrot di media sosial.

Menteri Luar Negeri Belanda, Tom Berendsen, juga akan memanggil duta besar Israel untuk membahas perlakuan yang dinilai tidak dapat diterima terhadap para aktivis. Inggris, melalui Menteri Luar Negeri Yvette Cooper, menyatakan dirinya sangat terkejut oleh video tersebut dan telah meminta penjelasan dari otoritas Israel. “Kami menegaskan kewajiban mereka untuk melindungi hak-hak warga negara kami dan semua pihak yang terlibat,” kata Cooper.

Kementerian Luar Negeri Turki mengecam keras Ben Gvir, menyebutnya sebagai sosok yang secara terbuka menunjukkan mentalitas penuh kekerasan dan barbar dari pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Kanada juga akan memanggil duta besar Israel untuk menyampaikan protes. Menteri Luar Negeri Kanada, Anita Anand, mengatakan bahwa apa yang mereka lihat, termasuk video yang dibagikan Ben Gvir, sangat mengkhawatirkan dan benar-benar tidak dapat diterima.

Utusan Amerika Serikat untuk Israel, Mike Huckabee, turut mengecam tindakan tersebut dan menyebutnya memalukan. “Ben Gvir telah mengkhianati martabat negaranya,” tulis Huckabee di X. Komisioner Uni Eropa untuk Kesetaraan, Kesiapsiagaan, dan Manajemen Krisis, Hadja Lahbib, juga mengecam keras perlakuan terhadap para aktivis. “Tak seorang pun seharusnya dihukum karena membela kemanusiaan,” tegasnya. Lahbib menambahkan bahwa mereka bukanlah kriminal yang telah divonis, melainkan aktivis yang berusaha membawa roti bagi orang-orang yang kelaparan.

Hamas, yang ditetapkan sebagai organisasi teroris oleh Israel, Amerika Serikat, Inggris, dan sejumlah negara lain, juga mengecam rekaman tersebut. Kelompok itu menyebutnya sebagai bukti kerusakan moral para pemimpin Israel.

Di tengah kecaman global, kritik juga datang dari dalam negeri Israel. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, meskipun membela hak Israel untuk menghentikan apa yang disebutnya sebagai “armada provokatif para pendukung teroris Hamas,” mengakui bahwa cara Ben Gvir memperlakukan para aktivis tidak sejalan dengan nilai dan norma Israel. “Saya telah memerintahkan otoritas terkait untuk segera mendeportasi para provokator tersebut,” kata Netanyahu.

Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, juga menyuarakan kritik tajam. “Anda dengan sadar telah merugikan negara kami melalui tindakan memalukan ini dan ini bukan pertama kalinya,” tulis Saar di X. Ia menegaskan bahwa Ben Gvir bukanlah wajah Israel. Israel menyatakan bahwa 430 aktivis di kapal armada bantuan telah dipindahkan ke kapal Israel dan akan diizinkan bertemu perwakilan konsuler masing-masing setelah tiba. Dalam insiden pencegatan serupa, para aktivis biasanya dideportasi setelah menjalani penahanan.

Dalam perkembangan terpisah, pemerintah Indonesia menyatakan mengutuk keras tindakan militer Israel. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Yvonne Mewengkang, mendesak pemerintah Israel untuk segera melepaskan seluruh kapal dan awak misi kemanusiaan internasional yang ditahan. Pemerintah Indonesia tengah menjalin komunikasi dengan berbagai pihak untuk mengetahui kondisi terkini lima warga negara Indonesia yang diduga turut ditangkap. Mereka adalah Bambang Noroyono dan Thoudy Badai dari Republika, Andre Prasetyo dari Tempo, Rahendro Herubowo dari iNews, serta Andi Angga Prasadewa, aktivis Rumah Zakat.

“Kami tengah menyiapkan langkah kontingensi, termasuk fasilitasi perlindungan dan percepatan proses pemulangan apabila diperlukan. Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat,” kata Yvonne.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar