Kelompok advokasi Palestina di Israel, Adalah, menyatakan telah menerima pemberitahuan resmi dari otoritas keamanan Israel pada Sabtu, 9 Mei 2026, mengenai rencana pembebasan dua aktivis Global Sumud Flotilla. Informasi tersebut disampaikan langsung oleh badan keamanan dalam negeri Israel, Shin Bet, kepada tim hukum Adalah.
Dalam pernyataannya, Adalah mengungkapkan bahwa Shin Bet telah mengonfirmasi dua aktivis yang akan dibebaskan pada hari yang sama, yakni Thiago de Avila, warga negara Brasil, dan Saif Abukeshek, seorang aktivis asal Spanyol keturunan Palestina. Keduanya selama ini ditahan setelah terlibat dalam misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza.
Setelah proses pembebasan, otoritas Israel berencana menyerahkan kedua aktivis tersebut kepada pihak imigrasi. Mereka akan tetap berada dalam tahanan hingga proses deportasi selesai dilaksanakan. Keputusan ini menjadi babak baru dalam rangkaian penahanan para aktivis flotilla yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.
Sebelumnya, upaya hukum untuk membebaskan para aktivis mengalami jalan buntu. Pengadilan distrik Israel di Beersheba pada Rabu lalu menolak banding yang diajukan Adalah terkait perpanjangan masa penahanan. Putusan pengadilan tersebut menjadi dasar bagi otoritas keamanan untuk melanjutkan proses hukum terhadap para aktivis.
Kronologi penangkapan bermula ketika pasukan Israel menyerang kapal Global Sumud Flotilla pada 30 April lalu di perairan dekat Pulau Kreta, Yunani. Lokasi penyerangan tersebut berjarak sekitar 600 mil laut dari Jalur Gaza, wilayah yang selama ini berada dalam blokade ketat Israel. Misi flotilla sendiri bertujuan untuk menerobos blokade dan mengirimkan bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Situasi kemanusiaan di Jalur Gaza sendiri semakin memprihatinkan. Israel telah memberlakukan blokade ketat terhadap wilayah tersebut sejak 2007, yang berdampak langsung pada sekitar 2,4 juta penduduk Gaza. Krisis kemanusiaan yang berkepanjangan ini diperparah dengan kondisi ekonomi dan akses terhadap kebutuhan dasar yang sangat terbatas.
Di sisi lain, konflik berskala besar masih berlangsung di kawasan tersebut. Militer Israel melancarkan ofensif besar-besaran di Gaza sejak Oktober 2023. Serangan tersebut dilaporkan telah menewaskan lebih dari 72 ribu orang dan melukai lebih dari 172 ribu lainnya. Kerusakan infrastruktur dan permukiman warga pun disebut meluas di berbagai wilayah Gaza.
Artikel Terkait
Petugas SPBU Cileungsi Jadi Korban Penganiayaan, Polisi Tangkap Pelaku Usai Viral
IPB University Bantah Kelola Dapur Makan Bergizi Gratis, Fokus pada Riset dan Standarisasi Gizi Nasional
Arema FC Hancurkan PSM Makassar 3-0 di Kandang, Bangkit dari Keterpurukan
SMA Negeri 2 Bitung Juara LKBB Tingkat Sulut, Siap Wakili Provinsi ke Final Nasional