KTT ASEAN ke-48 Resmi Dibuka, Prabowo dan Marcos Dorong Penguatan Kerja Sama Kawasan di Tengah Tantangan Geopolitik dan Pangan

- Sabtu, 09 Mei 2026 | 07:00 WIB
KTT ASEAN ke-48 Resmi Dibuka, Prabowo dan Marcos Dorong Penguatan Kerja Sama Kawasan di Tengah Tantangan Geopolitik dan Pangan

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Ke-48 ASEAN resmi dibuka di Filipina, dengan seruan yang nyaris seragam dari para pemimpin negara anggota, termasuk Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. dan Presiden RI Prabowo Subianto, untuk memperkuat kerja sama di kawasan Asia Tenggara.

Marcos menekankan urgensi kolaborasi di tengah meningkatnya konflik geopolitik global. Sementara itu, Prabowo mengingatkan risiko fenomena El Nino ekstrem yang dapat mengancam produksi pangan. Ia mendorong koordinasi kawasan untuk memajukan sistem cadangan pangan bersama.

Semangat kerja sama sejatinya telah menjadi fondasi sejak ASEAN didirikan pada 1967. Hampir lima dekade berlalu, berbagai kemitraan telah terjalin, baik antarnegara anggota maupun dengan negara di luar kawasan. Dalam hal traktat persahabatan, misalnya, ASEAN telah berhasil menjalin kesepakatan dengan 57 negara.

Namun, banyaknya kerja sama tersebut belum sepenuhnya menjawab keraguan mengenai soliditas ASEAN. Salah satu indikatornya terlihat dari kontribusi perdagangan intra-ASEAN yang pada 2024 hanya mencapai 20 persen dari total perdagangan kawasan. Sebagai perbandingan, perdagangan intra-Uni Eropa menyumbang 60 persen dari total perdagangan di kawasan tersebut.

Angka ini menjadi ironi, mengingat ASEAN Trade in Goods Agreement (ATIGA) telah berlaku sejak 2010. Kesepakatan itu menghapus hampir seluruh tarif di antara negara-negara ASEAN. Artinya, hambatan terbesar dalam perdagangan intra-ASEAN justru berasal dari hambatan nontarif, seperti aturan kandungan lokal, pembatasan ekspor, dan sistem lisensi impor yang berbeda di tiap negara.

Alih-alih membentuk pasar tunggal, pelaku usaha di ASEAN justru dihadapkan pada kumpulan regulasi yang tidak seragam. Kondisi ini meningkatkan biaya kepatuhan dan membuat perusahaan enggan memandang ASEAN sebagai satu kesatuan ekonomi.

Di sektor lain, kegamangan persatuan ASEAN semakin terlihat. Dalam menghadapi konflik antaranggota, seperti krisis di Myanmar, prinsip ASEAN Way yang menghindari intervensi masih menjadi pegangan. Akibatnya, mekanisme penyelesaian sengketa, seperti Protokol Penyelesaian Sengketa atau mekanisme Good Offices, hampir tidak pernah digunakan.

Prinsip ASEAN Way memang dapat memperpanjang umur perhimpunan ini di kawasan yang memiliki potensi konflik tinggi. Namun, berbagai krisis global, baik perang maupun bencana alam, seharusnya menjadi refleksi untuk memperkuat persatuan. Berkaca dari konflik AS-Israel melawan Iran, tidak ada satu pun negara ASEAN yang kebal dari ancaman krisis energi.

Di sisi lain, potensi besar ASEAN di bidang energi bersih dan pangan tidak akan menjadi kekuatan tanpa persatuan yang nyata. Jawaban atas tantangan ini kini berada di tangan para kepala negara.

Langkah konkret telah ditunjukkan Presiden Prabowo dalam KTT Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) yang digelar sehari sebelum pembukaan resmi KTT ASEAN. Ia mengingatkan potensi besar tenaga air, surya, dan angin yang dimiliki kawasan tersebut. Prabowo bahkan mendorong langkah nyata, seperti pengembangan tenaga air di Borneo, perluasan proyek energi surya di Palawan, serta peningkatan kapasitas jaringan listrik Trans-Borneo Power Grid.

Harapannya, pertemuan di Filipina ini, baik KTT ASEAN maupun KTT khusus lainnya, dapat membawa perubahan nyata dalam persatuan ASEAN. Sudah saatnya konsep ASEAN Way berbuah menjadi ASEAN Win, sehingga perhimpunan ini benar-benar menjadi kekuatan yang memberikan keuntungan nyata bagi seluruh anggotanya.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar