Hunian Sementara Pascabencana Aceh Jadi Ruang Pemulihan Ekonomi dan Sosial Penyintas

- Jumat, 08 Mei 2026 | 21:15 WIB
Hunian Sementara Pascabencana Aceh Jadi Ruang Pemulihan Ekonomi dan Sosial Penyintas

Hunian sementara yang dibangun Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera tidak sekadar berfungsi sebagai tempat berteduh bagi para penyintas. Lebih dari itu, kompleks tersebut telah menjadi ruang bagi warga untuk mulai menata kembali kehidupan yang sempat terhenti akibat bencana.

Di kompleks huntara yang berlokasi di kawasan Kantor Bupati Pidie Jaya, Aceh, denyut pemulihan terlihat dari aktivitas sederhana yang dijalani para penyintas setiap hari. Reni (47), seorang penyintas bencana hidrometeorologi, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana perlahan-lahan ia membangun kembali ekonomi keluarganya melalui usaha jajanan di lingkungan tersebut.

Banjir yang menerjang wilayahnya saat itu membuat rumah Reni tertimbun lumpur. Ia bersama keluarga terpaksa meninggalkan tempat tinggal dan memulai hidup dari titik nol. Namun, di tengah segala keterbatasan, Reni memilih untuk bangkit.

Setiap hari, ia mengolah berbagai jajanan seperti risol, tahu goreng, timpan, hingga bakso goreng dari dapur sederhana di kawasan huntara. Melalui usaha kecil itu, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sambil menunggu proses pemulihan berjalan sepenuhnya.

Dengan modal awal Rp200 ribu hasil pinjaman dari teman dan peralatan dapur dari bantuan Satgas PRR, Reni memulai usahanya secara bertahap. Kini, di depan deretan huntara tempatnya tinggal, berdiri warung kecil yang setiap hari didatangi warga sekitar. Kedua putrinya juga turut membantu menjaga dagangan saat sang ibu memasak.

Bagi Reni, keberadaan huntara memberikan ruang aman bagi keluarganya untuk kembali menyusun kehidupan setelah kehilangan rumah akibat bencana.

“Alhamdulillah, sekarang bisa jualan lagi. Hasilnya memang belum bisa ditabung banyak, tapi cukup untuk makan sehari-hari dan jajan anak-anak,” kata Reni dalam keterangan tertulis, Jumat (8/5/2026).

Semangat serupa juga dirasakan Siti Asyiah, warga Desa Sekumur, Kecamatan Sekerak, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh. Ia sempat tinggal selama lima bulan di tenda pengungsian sebelum akhirnya menempati huntara.

Menurutnya, kondisi tempat tinggal sementara yang lebih layak membuat keluarganya perlahan dapat kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan lebih nyaman.

“Kami sangat bersyukur atas bantuan ini. Terima kasih kepada pemerintah. Kami berharap huntara yang belum selesai bisa segera rampung, dan huntap juga cepat dibangun,” tutup Siti.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar