Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) menilai Iran masih memiliki kemampuan untuk bertahan menghadapi blokade laut AS hingga tiga hingga empat bulan ke depan, dengan persediaan rudal yang mencapai 70 persen dari jumlah sebelum perang. Temuan ini muncul di tengah gempuran habis-habisan yang dilancarkan AS dan Israel sejak akhir Februari lalu, dan bertolak belakang dengan klaim publik pemerintahan Presiden Donald Trump yang menyebut sebagian besar persenjataan Iran telah hancur.
Laporan analisis CIA itu diungkapkan dalam edisi terbaru The Washington Post pada Kamis (7/5) waktu setempat, dan telah disampaikan kepada pemerintahan Trump pekan ini. Media tersebut mengutip sumber dari kalangan intelijen yang menyebut bahwa Iran masih mempertahankan “kemampuan rudal balistik yang signifikan” setelah berminggu-minggu dibombardir oleh koalisi AS dan Israel. Temuan ini sekaligus mempertanyakan efektivitas serangan yang selama ini digembar-gemborkan oleh Gedung Putih.
Menurut seorang pejabat AS yang dikutip The Washington Post, Iran masih memiliki sekitar 75 persen pasokan peluncur rudal mobile dari jumlah sebelum perang serta 70 persen pasokan rudal. Lebih dari itu, Teheran disebut telah berhasil membuka kembali fasilitas penyimpanan rudal bawah tanahnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terus dibombardir, rantai komando dan kendali militer Iran masih berfungsi dan mampu melancarkan serangan balasan kapan saja.
Pernyataan publik Trump justru berkebalikan dengan temuan CIA tersebut. Dalam pernyataan di Ruang Oval Gedung Putih pada Rabu (6/5), Trump mengklaim bahwa rudal-rudal Iran sebagian besar telah hancur. “Mereka mungkin memiliki 18-19 persen, tetapi tidak banyak dibandingkan apa yang sebelumnya mereka miliki,” ujarnya. Klaim serupa juga terus diulang oleh para penasihat utama Trump selama berminggu-minggu, bahwa Iran telah dihancurkan oleh serangan-serangan AS dan Israel.
Sementara itu, laporan CIA justru memperkuat indikasi bahwa Iran belum kehilangan daya gentarnya. Dengan masih utuhnya persediaan rudal dan sistem peluncuran mobile, Teheran dinilai masih memiliki kapasitas untuk bertahan dalam jangka pendek hingga menengah. Blokade laut yang diterapkan AS pun diperkirakan baru akan berdampak signifikan setelah tiga hingga empat bulan, bukan dalam waktu singkat seperti yang diasumsikan sebelumnya.
Artikel Terkait
United Bike Luncurkan ‘14 Hari Sepedaan Tanpa BBM Challenge’ Dorong Alternatif Transportasi Hemat di Tengah Harga BBM Tinggi
Anggota DPR Rajiv Salurkan 50 Bantuan PIP dan Janjikan Kursi Roda untuk SLB di Lembang
Prabowo Dorong BIMP-EAGA Kembangkan Energi Bersih untuk Perkuat Ketahanan Energi Regional
Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Kasus Dua PRT Lompat dari Lantai Empat di Bendungan Hilir