Rencana perundingan putaran kedua antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad gagal terlaksana. Padahal, sebelumnya ada secercah harapan. Tapi ya, diplomasi memang kadang berjalan pahit. Kini kebuntuan malah semakin dalam, seperti luka yang tak kunjung sembuh.
Akar masalahnya? Proposal baru dari Iran. Isinya, menurut sejumlah sumber, tidak menyentuh sama sekali soal penghentian program nuklir. Dan itu, bagi Presiden Donald Trump, adalah garis merah yang tak bisa ditawar. Sejak awal, ia sudah vokal soal ini. Jadi, wajar kalau Washington bereaksi dingin.
Di sisi lain, situasi di dalam negeri AS juga tidak mendukung. Belum lama ini, ada insiden penembakan yang menargetkan Trump. Peristiwa itu, menurut pengamat politik, langsung mempersempit ruang kompromi. Para politisi di Washington jadi lebih waspada, bahkan cenderung keras. Ruang untuk negosiasi yang lentur? Kian tipis.
Menariknya, di tengah semua ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, malah bergerak cepat. Ia melakukan tur diplomatik ke Rusia, Oman, dan Pakistan. Tujuannya jelas: menggalang dukungan untuk proposal Teheran. Ia seperti sedang bermain catur di papan yang berbeda, mencari sekutu di luar meja perundingan utama.
“Kami mencari jalan tengah, tapi bukan berarti kami akan meninggalkan prinsip,” kata seorang diplomat Iran yang enggan disebut namanya.
Namun begitu, alih-alih mendekat pada solusi, kedua pihak malah semakin menjauh. Diplomasi kini seperti kapal yang kandas di tengah laut. Tidak ada arah, tidak ada angin yang mendorong. Lalu, kalau meja perundingan sudah tidak lagi mempertemukan, ke mana konflik ini akan bermuara? Entahlah. Mungkin kita semua hanya bisa menunggu dan melihat.
Artikel Terkait
Mayat Pria Tanpa Identitas Ditemukan Mengapung di Embung Brown Canyon Semarang, Kondisi Tanpa Busana
MUI: Perbedaan Pandangan Soal Lokasi Sembelih Dam Antara MUI dan Muhammadiyah Harus Dihormati
Jadwal Salat Surabaya Hari Ini, 1 Mei 2025: Imsak hingga Isya
Kemendagri Dorong Penegasan Batas 5.000 Desa Hingga 2029 untuk Cegah Konflik Wilayah