Putaran Kedua Perundingan AS-Iran di Islamabad Batal, Kebuntuan Diplomasi Nuklir Makin Dalam

- Jumat, 01 Mei 2026 | 02:15 WIB
Putaran Kedua Perundingan AS-Iran di Islamabad Batal, Kebuntuan Diplomasi Nuklir Makin Dalam

Rencana perundingan putaran kedua antara Amerika Serikat dan Iran di Islamabad gagal terlaksana. Padahal, sebelumnya ada secercah harapan. Tapi ya, diplomasi memang kadang berjalan pahit. Kini kebuntuan malah semakin dalam, seperti luka yang tak kunjung sembuh.

Akar masalahnya? Proposal baru dari Iran. Isinya, menurut sejumlah sumber, tidak menyentuh sama sekali soal penghentian program nuklir. Dan itu, bagi Presiden Donald Trump, adalah garis merah yang tak bisa ditawar. Sejak awal, ia sudah vokal soal ini. Jadi, wajar kalau Washington bereaksi dingin.

Di sisi lain, situasi di dalam negeri AS juga tidak mendukung. Belum lama ini, ada insiden penembakan yang menargetkan Trump. Peristiwa itu, menurut pengamat politik, langsung mempersempit ruang kompromi. Para politisi di Washington jadi lebih waspada, bahkan cenderung keras. Ruang untuk negosiasi yang lentur? Kian tipis.

Menariknya, di tengah semua ini, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, malah bergerak cepat. Ia melakukan tur diplomatik ke Rusia, Oman, dan Pakistan. Tujuannya jelas: menggalang dukungan untuk proposal Teheran. Ia seperti sedang bermain catur di papan yang berbeda, mencari sekutu di luar meja perundingan utama.

“Kami mencari jalan tengah, tapi bukan berarti kami akan meninggalkan prinsip,” kata seorang diplomat Iran yang enggan disebut namanya.

Namun begitu, alih-alih mendekat pada solusi, kedua pihak malah semakin menjauh. Diplomasi kini seperti kapal yang kandas di tengah laut. Tidak ada arah, tidak ada angin yang mendorong. Lalu, kalau meja perundingan sudah tidak lagi mempertemukan, ke mana konflik ini akan bermuara? Entahlah. Mungkin kita semua hanya bisa menunggu dan melihat.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar