Kisah Pilu di Balik Tragedi KA Argo Bromo Anggrek: Keluarga Cari Korban dengan Foto, Harapan Pupus setelah Tes DNA

- Rabu, 29 April 2026 | 21:40 WIB
Kisah Pilu di Balik Tragedi KA Argo Bromo Anggrek: Keluarga Cari Korban dengan Foto, Harapan Pupus setelah Tes DNA

Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL di Stasiun Bekasi Timur peristiwa itu menyisakan duka yang dalam. Bukan cuma angka korban, tapi ada cerita-cerita pilu di baliknya. Cerita tentang keluarga yang berusaha keras mencari orang yang mereka cintai, berharap-harap cemas, sampai akhirnya harus menerima kenyataan pahit.

Peristiwa nahas itu terjadi pada Senin malam, 27 April. Total 16 orang meninggal dunia. Sebuah angka yang cukup besar, dan di balik setiap angka itu ada nama, ada wajah, ada keluarga yang menunggu.

Berikut daftar korban yang dirilis dari beberapa rumah sakit:

RS Polri Kramat Jati:
Tutik Anitasari, Harum Anjasari, Nur Alimantun Citra Lestari, Farida Utami, Vica Acnia Fratiwi, Ida Nuraida, Gita Septia Wardany, Fatmawati Rahmayani, Arinjani Novita Sari, Nur Ainia Eka Rahmadhyna.

RSUD Kota Bekasi:
Nuryati, Nur Laela, Engar Retno Krisjayanti, Mia Citra.

RS Mitra Bekasi:
Adelia Rifani.

RS Bella Bekasi:
Ristuti Kustirahayu.

Salah satu kisah yang cukup menyayat hati datang dari keluarga Vica Acnia Fratiwi. Perempuan berusia 23 tahun itu jadi korban dalam kecelakaan tersebut. Keluarganya, dibantu tetangga, berusaha mencari kabar tentang Vica sejak malam kejadian.

Nina Monica (30), kakak Vica, masih ingat betapa paniknya saat itu. "Kaget gitu. Nangis. Nangis terus, habis itu minta bantuan tetangga bawa mobil antar ke itu, antar ke Stasiun Bekasi Timur, karena kan nyetir sendiri masih belum bisa, lemes-lah," ujarnya di rumah duka kawasan Telaga Murni, Kabupaten Bekasi, Rabu (29/4).

Bukan cuma bantuan antar jemput. Tetangga Nina juga dengan sigap membantu mencetak foto Vica. Foto itu dibawa-bawa untuk mempermudah pencarian, sebelum akhirnya Vica dipastikan meninggal.

"Itu inisiatif tetanggaku biar gampang nyarinya gitu, kayak mukanya ini. Soalnya, benar-benar sudah minta bantu cari sama siapa aja nggak dapat orangnya," katanya.

Nina bercerita, di awal-awal pencarian, keluarganya sempat kesulitan. Mereka masih punya secercah harapan. Mungkin Vica selamat, mungkin cuma belum bisa dihubungi. Tapi kenyataan berkata lain.

"Kalau misalnya awalnya sih berharapnya masih selamat ya, karena kan cuma kayak, 'Oh nggak bisa dihubungi nih. Handphone-nya masih berdering'. Ya sudahlah, paling dia nggak bisa pulang atau HP-nya jatuh karena chaos kan. Pas disamperin ternyata kayak di Bekasi Timur sudah diblokade gitu kan. Terus kita jalan tuh dari yang lampu merah ke Stasiun Bekasi Timur, terus habis itu melihat ambulans berjejer, ya sudah ada poskonya," kenangnya.

"Ada poskonya sudah ditanyain ini kalau misalnya nama ini ada nggak, ya suruh cari ke rumah sakit kan, dikasih tahu list rumah sakitnya. Ternyata di rumah-rumah sakit itu nggak ada," sambungnya.

Kabar pahit itu akhirnya tiba saat Nina mendatangi RS Polri Kramat Jati. Untuk memastikan, ia harus menjalani tes DNA. Barulah setelah itu semuanya jelas.

"Kalau misalnya dipastikan sebagai korban itu kemarin sih yang pukul 16.30 WIB ya, pas setelah hasil tes DNA aku sama korban itu yang jenazah itu valid baru di-fix, 'Oh, itu Vica'," katanya.

Nina mengenang Vica sebagai pribadi yang rajin. Sempat salat Magrib dulu sebelum naik KRL. "Orangnya cantik, pintar, nggak neko-neko, rajin ngaji dia. Rajin ngaji, rajin salat. Jadi kayak sebelum dia naik KRL pun itu juga salat Magrib dulu," katanya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar