Menteri PPPA Usul Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, AHY: Fokus pada Keselamatan Semua Penumpang

- Rabu, 29 April 2026 | 16:30 WIB
Menteri PPPA Usul Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, AHY: Fokus pada Keselamatan Semua Penumpang

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, baru-baru ini jadi sasaran kritik. Bukan tanpa alasan. Ia menyarankan agar gerbong khusus wanita di KRL dipindahkan tidak lagi di posisi paling depan atau belakang. Usulan ini muncul setelah kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL rute Jakarta-Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Senin (27/4/26) malam.

Menurut Arifah, gerbong wanita sebaiknya ditempatkan di tengah rangkaian. Lebih aman, katanya.

"Kalau bisa yang perempuan jangan di depan dan belakang. Jadi kalau bisa di posisi di tengah, jadi posisi paling tengah, untuk gerbongnya ya. Supaya juga lebih safe dan aman," ujarnya.

Tapi, publik ternyata tidak serta-merta setuju. Bahkan, Menteri Koordinator Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), ikut angkat bicara. Alih-alih membahas pemindahan gerbong, AHY lebih menyoroti perlunya evaluasi menyeluruh pascainsiden.

Menurut AHY, kecelakaan ini bukan cuma soal keselamatan satu gender. Semua penumpang laki-laki maupun perempuan harus dilindungi. "Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun," kata AHY, dikutip dari Youtube Cumicumi.

Di sisi lain, AHY juga mengakui ada ironi. Gerbong khusus wanita, yang selama ini disiapkan untuk melindungi penumpang perempuan, justru berada di posisi paling terdampak saat tabrakan terjadi. "Ada tubrukan antara KRL dari belakang dihantam oleh kereta api jarak jauh. Dan kebetulan yang paling belakang adalah gerbong kereta khusus wanita. Jadi pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan, bisa dikatakan resiko yang paling tinggi," jelasnya.

Namun begitu, AHY menegaskan bahwa fokus pemerintah bukanlah memisah-misahkan penumpang berdasarkan gender. Bukan itu intinya. "Jadi yang kita fokuskan adalah bukan perempuan dan laki-lakinya, tetapi bagaimana sistem transportasi kereta dan sistem transportasi publik lainnya ini aman, selamat. Menghadirkan rasa aman, nyaman dan juga safety first itu benar-benar bukan hanya menjadi jargon, tapi benar-benar bisa kita terapkan dengan baik," pungkasnya.

Pernyataan AHY ini seolah menjadi tamparan halus bagi usulan Arifah. Tapi ya, begitulah setiap insiden selalu membuka ruang untuk evaluasi. Dan kadang, yang paling penting bukan di mana kita duduk, tapi seberapa siap sistem melindungi kita semua.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar