Proposal Baru Iran Soal Selat Hormuz Dinilai Tak Bahas Nuklir, Perundingan dengan AS Makin Buntu

- Rabu, 29 April 2026 | 06:35 WIB
Proposal Baru Iran Soal Selat Hormuz Dinilai Tak Bahas Nuklir, Perundingan dengan AS Makin Buntu

Perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran lagi-lagi mentok. Belum ada titik terang. Apalagi setelah proposal anyar dari Teheran soal Selat Hormuz bikin Trump mengerutkan kening.

Menurut laporan yang beredar, Selasa (28/4/2026), Presiden AS itu sudah mendapat pengarahan soal proposal baru Iran dalam rapat di Situation Room Gedung Putih, sehari sebelumnya. Isinya? Iran mau membuka kembali Selat Hormuz. Tapi ada syaratnya: AS harus mencabut blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka.

Nah, yang bikin ruang perundingan makin sempit, proposal itu sama sekali tidak menyinggung program nuklir Teheran. Setidaknya itu yang dikatakan sejumlah pejabat dari kedua negara.

Sebenarnya, apa sih yang bikin Trump tidak senang? Tidak ada yang tahu persis. Tapi sejak awal, dia sudah keras kepala soal dua tuntutan nuklirnya. Jadi ya, wajar kalau dia merasa proposal itu kurang greget.

Seorang pejabat AS yang minta namanya tidak disebut bilang, menerima proposal Iran sama saja dengan secara terbuka mengakui kekalahan Trump. Kasar memang, tapi begitulah kira-kira suasana di balik layar.

“Amerika Serikat tidak akan bernegosiasi melalui pers,” tegas juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, kepada NYT. “Kami sudah menjelaskan batasan-batasan kami dengan jelas. Presiden hanya akan membuat kesepakatan yang baik bagi rakyat Amerika dan dunia.”

Proposal baru Iran ini pertama kali diungkap media AS, Axios, pada Minggu (26/4) waktu setempat. Menariknya, laporan itu muncul tak lama setelah kabar bahwa Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyerahkan proposal serupa kepada mediator Pakistan.

Menurut Axios, isi proposal itu mengusulkan perpanjangan gencatan senjata entah untuk jangka waktu lama atau bahkan permanen. Sementara perundingan soal nuklir baru akan dimulai kalau Selat Hormuz sudah dibuka dan blokade laut AS dicabut.

Di sisi lain, AS sejak awal bersikeras: Iran harus menangguhkan pengayaan uranium setidaknya sepuluh tahun. Belum lagi soal pemindahan pasokan uranium yang sudah diperkaya dari negara itu. Tuntutan-tuntutan ini, sampai sekarang, belum juga diterima secara resmi oleh Teheran.

Jadi, ya, jalan masih panjang. Atau mungkin malah buntu.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar