AS Genjot Produksi Fosil, Cina Kuasai Teknologi Hijau: Dua Jalur Perebutan Kepemimpinan Energi Global

- Senin, 27 April 2026 | 15:05 WIB
AS Genjot Produksi Fosil, Cina Kuasai Teknologi Hijau: Dua Jalur Perebutan Kepemimpinan Energi Global

Perebutan Masa Depan Energi: AS vs Cina

Apapun yang terjadi dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran, satu hal sudah pasti: pasar energi global tidak akan kembali normal dalam waktu dekat. Bukan cuma sebentar, tapi bisa sangat lama. Banyak pengamat mulai percaya bahwa lonjakan harga bahan bakar justru bisa menjadi berkah tersembunyi memberi dorongan besar bagi energi terbarukan.

Di balik hiruk-pikuk perebutan kekuasaan di Teluk Persia saat ini, ada pertarungan yang lebih dalam. Dua raksasa ekonomi dunia sedang beradu visi. Mereka berebut menentukan seperti apa arsitektur energi global di masa depan dan siapa yang akan memegang kendali.

Di bawah Donald Trump, AS berkomitmen penuh untuk memacu produksi minyak dan gas. Sementara itu, Cina dalam satu dekade terakhir telah berubah total. Dari negara penghasil karbon dioksida terbesar di dunia, mereka kini menjelma menjadi pemimpin global dalam revolusi energi listrik.

Singkatnya: Amerika ingin era fosil bertahan selama mungkin. Cina, sebaliknya, perlahan tapi pasti menjalankan strategi kepemimpinan global lewat panel surya, baterai penyimpanan, dan mobil listrik semuanya berlabel "made in China."

Minyak dan Gas: Senjata Politik AS

"Di AS, agenda dominasi energi sangat bergantung pada pasar energi fosil," kata Andreas Goldthau, Direktur Willy Brandt School of Public Policy di Universitas Erfurt. "Mereka jelas berupaya memanfaatkan kekayaan energi fosil untuk kepentingan politik."

Goldthau menambahkan, hal ini bahkan sampai pada upaya mengendalikan negara-negara kaya sumber daya lain, seperti Venezuela. Atau setidaknya mengatur sumber daya, produksi, dan ekspor mereka.

"Di sisi lain, kita melihat Cina yang sangat fokus pada dekarbonisasi," lanjutnya. "Mereka serius menggarap sektor teknologi bersih dan mengurangi impor minyak serta gas. Ini bukan sekadar masalah kebijakan iklim. Sebaliknya, ini soal keamanan ekonomi."

Menurut Goldthau, warga Cina sudah sadar betul bahwa mereka bergantung pada negara lain untuk mempertahankan model ekonomi mereka. Dan mereka melakukan segala cara untuk mengubah ketergantungan itu.

"Cina adalah investor terbesar dalam energi terbarukan dan teknologi bersih. Sekarang, mereka memimpin dalam teknologi yang kita butuhkan untuk menguasai transisi energi," tegasnya.

Mulai dari jaringan energi pintar hingga tenaga surya atau angin hampir tidak ada yang bisa dibuat tanpa produk dan komponen dari Cina. Termasuk logam tanah jarang. "Mereka sudah membuat kemajuan signifikan, termasuk dalam elektroliser untuk memproduksi hidrogen hijau dan penyimpanan baterai," kata Goldthau. "Daftarnya panjang. Mereka melakukan ini untuk membangun ketahanan, tapi juga tentu saja untuk mencapai kemandirian dan kedaulatan."

Menurut analisis Badan Energi Internasional (IEA) dan konsultan McKinsey, antara 60 hingga 70 persen dari semua mobil listrik di dunia diproduksi di Cina. Karena pertumbuhan ekonomi di sana melambat, terjadi kelebihan pasokan besar-besaran dan semakin banyak diekspor ke Eropa.

Program 'Made in China' yang Sukses

Cina juga memegang kendali penuh atas teknologi kunci transisi energi. Negara ini kini menguasai sekitar 80 persen rantai pasok global untuk fotovoltaik. Di beberapa subsektor, seperti produksi wafer silikon, pangsa pasarnya bahkan menembus lebih dari 95 persen.

Berdasarkan Global EV Outlook dari IEA, pada paruh pertama 2025 saja, Cina memasang lebih banyak kapasitas tenaga surya dibandingkan total kapasitas yang dipasang di seluruh dunia. Bayangkan.

Pangsa Cina dalam produksi turbin angin global juga meroket dalam beberapa tahun terakhir. Menurut angka dari Asosiasi Energi Angin Dunia dan Bloomberg New Energy Finance, Cina akan menguasai sekitar 72 persen pasar global untuk turbin angin baru pada 2025. Delapan dari sepuluh produsen terkemuka dunia saat ini adalah perusahaan Cina seperti Goldwind atau Envision.

Ekspor teknologi hijau Cina meningkat lebih dari empat kali lipat antara 2020 dan 2025. Lembaga think tank energi Ember menghitung bahwa pada 2025, sektor energi bersih menyumbang lebih dari sepertiga total pertumbuhan PDB Cina.

Dominasi Fosil AS vs. Negara Terelektrifikasi Cina

Sementara itu, AS di bawah Trump justru mengerem pengembangan energi terbarukan. Sebaliknya, mereka mempercepat ekspansi bahan bakar fosil secara besar-besaran. Ingat slogan kampanye Trump? "Drill, baby, drill." Bor, sayang, bor.

Prinsip yang sama juga dipegang Menteri Energi Trump, Chris Wright. Ia adalah pendiri dan mantan CEO Liberty Energy, perusahaan fracking terbesar kedua di Amerika Utara.

"Bukan rahasia lagi bahwa di bawah Trump, AS mengejar kebijakan 'dominasi energi'," kata Henning Gloystein, pakar energi di kantor London firma konsultan Eurasia Group. "Kebijakan ini dijalankan secara terang-terangan. Menteri Energi Chris Wright sudah membicarakannya selama bertahun-tahun. Dominasi ini dibangun dengan menggenjot produksi minyak dan gas dalam negeri serta ekspornya. Mereka juga ingin menguasai aset asing seperti di Venezuela, misalnya, dan mungkin juga Iran."

Revolusi Fracking AS

Menurut Menteri Energi AS Wright, dalam waktu hanya 20 tahun, Amerika Serikat berubah drastis. Dari importir minyak dan gas terbesar di dunia, mereka kini menjadi eksportir gas global terbesar dan salah satu eksportir minyak yang dominan. Ini semua berkat yang disebut "revolusi serpih" ledakan fracking yang meningkatkan produksi gas alam dan minyak lokal secara masif.

"Saat ini, Amerika Serikat memproduksi lebih banyak minyak daripada Arab Saudi dan Rusia jika digabungkan," demikian pernyataan Gedung Putih dengan percaya diri di situs resminya. "Juga lebih banyak gas alam daripada gabungan produksi Rusia, Iran, dan Cina. Ini mengukuhkan peran AS sebagai pemimpin energi global yang tak terbantahkan."

Tarif Lebih Rendah untuk Pembeli Bahan Bakar Fosil AS

Apakah ini berarti bagi Trump, minyak pada dasarnya adalah faktor kekuatan geopolitik yang harus dimiliki dan dikendalikan? "Tentu saja," kata Gloystein dari Eurasia Group.

Ia menyoroti cara AS bernegosiasi dengan mitra dagangnya. "Tahun lalu, AS menyatakan: Sebagai imbalan atas tarif yang relatif rendah, Eropa harus membeli lebih banyak minyak dan gas Amerika."

Gloystein berkomentar, Washington menggunakan taktik yang sama dengan mitra dagang lainnya Jepang, Thailand, atau India. Mereka berupaya mengunci kontrak pasokan selama mungkin.

Ia menjelaskan kebijakan energi AS di bawah Trump seperti ini: "Jika sebuah perusahaan Jerman meminta gas alam cair (LNG) dari AS, pemasok baru itu akan berkata: 'Oke, kami bisa mengirimkan dua hingga tiga juta ton LNG ke Jerman mulai tahun 2028. Dan itu akan menjadi kontrak 20 tahun.'"

"Dengan begitu," lanjutnya, "mereka sudah mengintegrasikan gas ke dalam sistem energi Jerman untuk 20 tahun ke depan. Amerika sangat aktif melakukan ini."

AS sebagai Penjamin Pasokan Gas dan Minyak

"AS adalah sumber pertumbuhan terbesar dalam produksi minyak global," kata Fatih Birol, Kepala Badan Energi Internasional di Paris. Namun ia memperingatkan agar tidak hanya terpaku pada sumber energi fosil.

"Kita tidak boleh lupa: Keamanan energi di abad ke-21 bukan hanya berarti ketersediaan minyak dan gas. Tetapi juga diversifikasi rantai pasok untuk teknologi bersih."

Di sini, Cina jelas unggul. Revolusi serpih telah membantu AS mencapai kemandirian energi dan meningkatkan pengaruh geopolitiknya. Cina bertujuan melakukan hal yang sama melalui kepemimpinan globalnya dalam teknologi "hijau."

Namun perjalanan mereka masih panjang. Sekitar 60 persen dari total kebutuhan energi Cina masih dipenuhi oleh batu bara.

Pakar energi Gloystein dan Goldthau meyakini tren global jelas mengarah pada energi terbarukan. Tren ini sudah ada sebelum perang Iran, blokade Selat Hormuz, atau harga minyak dan gas yang selangit.

Pertanyaannya sekarang: siapa yang pada akhirnya akan menang? Dominasi energi fosil Amerika Serikat, atau negara terelektrifikasi yang dipromosikan Beijing?

"Jika saya harus bertaruh pada sesuatu sekarang," kata Goldthau, "saya akan memilih negara terelektrifikasi. Yang tidak hanya berusaha mengarahkan pasokan ke sumber energi domestik yang sebagian besar terbarukan tetapi juga, yang terpenting, mengembangkan teknologi yang dibutuhkan negara lain."

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar