Regenerasi Petani Jadi Kunci Swasembada Pangan, Jateng Miliki 630 Ribu Petani Milenial

- Sabtu, 25 April 2026 | 09:10 WIB
Regenerasi Petani Jadi Kunci Swasembada Pangan, Jateng Miliki 630 Ribu Petani Milenial

Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, bilang regenerasi petani itu langkah strategis. Bukan main-main. Ini soal mewujudkan swasembada pangan dan menjaga ketahanan pangan yang lebih kuat ke depannya.

Dia juga ngapresiasi konsistensi para petani milenial dan alumni pelatihan pertanian. Mereka terus berkontribusi di lapangan. Yang lebih menggembirakan, mereka berhasil menumbuhkan minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian.

"Ini bukan sekadar kegiatan rutin, tapi bentuk kontribusi nyata di lapangan," ujar Sumarno dalam keterangannya, Sabtu (25/4/2026). "Yang lebih penting, bagaimana teman-teman ini mampu mendorong anak-anak muda untuk mau bertani."

Pernyataan itu disampaikan saat dia mewakili Gubernur Ahmad Luthfi. Acaranya Apel Siaga Penyuluh Pertanian dan Petani Milenial Jawa Tengah, kemarin, di Agro Center Soropadan, Pringsurat, Kabupaten Temanggung.

Nah, soal angka, Sumarno menyebut saat ini Jawa Tengah punya sekitar 630 ribu petani milenial. Jumlah yang lumayan besar. Keberadaan mereka jadi bagian penting buat menjawab tantangan regenerasi. Soalnya, mayoritas petani sekarang usianya sudah 40 sampai 60 tahun.

"Regenerasi ini jadi kunci," tegas Sumarno. "Dengan SDM baru yang lebih adaptif terhadap teknologi dan inovasi, kita optimistis pertanian akan semakin efisien dan produktif."

Di sisi lain, Pemprov Jateng juga nggak tinggal diam. Mereka tengah memperkuat kebijakan perlindungan lahan pertanian. Caranya? Lewat revisi Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW.

Tujuannya jelas: memastikan lahan pertanian tetap terjaga dan nggak gampang beralih fungsi. Ke depannya, lahan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan pertanian bakal dilindungi secara ketat. Nggak main-main.

"Kami sedang berproses bersama kabupaten/kota untuk memastikan lahan pertanian terlindungi," jelas Sumarno. "Ini penting agar keberlanjutan produksi pangan tetap terjaga."

Dia nambahin, pengelolaan sumber daya air dan lingkungan juga jadi perhatian serius. Pemprov Jateng mendorong peningkatan kesadaran bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan. Khususnya daerah tangkapan air yang perannya krusial buat sistem pertanian.

Sementara itu, Ketua Umum Petani Milenial, Rayndra Syahdan Mahmudin, punya cerita lain. Dia menyampaikan apel ini diikuti 300 penyuluh pertanian dari 17 kabupaten/kota. Ditambah 300 Duta Petani Milenial.

Kegiatannya diarahkan untuk memperkuat kolaborasi. Antara petani milenial dan penyuluh, dalam mendukung swasembada pangan yang berkelanjutan.

"Kami berharap kolaborasi ini semakin kuat," katanya. "Mampu memberikan kontribusi nyata, bukan hanya di Jawa Tengah tapi juga secara nasional."

Menurut dia, pengembangan petani milenial terus menunjukkan tren positif. Jaringannya di Jawa Tengah kini sudah berkembang hingga hampir 35 ribu orang sejak 2019. Lumayan kan?

Upaya mengubah stigma juga terus dilakukan. Biar sektor pertanian makin diminati generasi muda. Sebagai profesi yang produktif dan menjanjikan, bukan sekadar pekerjaan sambilan.

"Stigma anak muda terhadap pertanian memang identik dengan kotor, kucel, kumuh, tidak keren gitu ya," ujar Rayndra. "Lah itulah upaya kami dari Duta Petani Milenial untuk mengubah stigma itu."

Berikutnya, giliran Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, angkat bicara. Dia bilang program swasembada pangan 2026 sejalan dengan visi Jawa Tengah sebagai lumbung pangan nasional.

Targetnya? Luas tanam padi pada 2026 ditetapkan mencapai 2,38 juta hektare. Realisasinya hingga saat ini baru 683.782 hektare. Masih panjang jalannya.

"Setiap hari, penambahan tanam mencapai rata-rata 7.000 hingga 8.000 hektare," ujarnya.

Dia juga memproyeksikan produksi padi hingga Mei 2026 mencapai 4,69 juta ton gabah kering giling. Dari target total 10,55 juta ton. Lumayan, setengah jalan.

Selain padi, komoditas lain juga didorong. Produksi cabai tercatat 80.892 ton, bawang merah 144.705 ton, dan daging sapi 245.747 ton. Angka-angka yang nggak bisa dianggap remeh.

"Jawa Tengah juga menjadi kontributor utama produksi bawang putih nasional," ucapnya. "Capaiannya 63,9 persen."

Untuk mendukung percepatan produksi, pihaknya menerapkan berbagai strategi. Mulai dari peningkatan indeks pertanaman, pengendalian organisme pengganggu tanaman, sampai adaptasi terhadap perubahan iklim. Pokoknya komprehensif.

Salah satu inovasi yang dikembangkan adalah sistem percepatan tanam berkelanjutan. Mereka nyebutnya pola "sepur". Intinya, mengintegrasikan proses panen hingga tanam secara cepat. Biar lahan bisa optimal, nggak ada waktu nganggur.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini