Jakarta, akhir April 2026 likuiditas dalam perekonomian kita lagi mengalir deras. Data terbaru dari Bank Indonesia menunjukkan, uang beredar dalam arti luas (M2) pada Maret lalu melesat hingga Rp10.355,1 triliun. Angka pertumbuhannya sendiri mencapai 9,7 persen secara tahunan. Cukup signifikan, mengingat bulan sebelumnya 'hanya' 8,7 persen.
Anton Pitono, Direktur Departemen Komunikasi BI, yang memberikan keterangan resmi di Jakarta, Kamis (23/4), mengonfirmasi hal ini.
"Pada Maret 2026, M2 tumbuh sebesar 9,7 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan Februari 2026 sebesar 8,7 persen (yoy) sehingga mencapai Rp10.355,1 triliun," ujarnya.
Menurut BI, lonjakan ini tak lepas dari dua faktor utama. Pertama, pertumbuhan uang beredar sempit (M1) yang cukup tinggi, yakni 14,4 persen. Kedua, uang kuasi yang naik 5,2 persen.
Namun begitu, kalau kita telusuri lebih dalam, ada pendorong lain yang lebih dominan. Tagihan bersih bank kepada pemerintah pusat, misalnya, melonjak luar biasa hingga 39,2 persen. Padahal bulan sebelumnya 'cuma' 25,6 persen. Ini jelas memberi dampak besar pada pergerakan M2 secara keseluruhan.
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)Penyaluran Kredit Masih Stabil
Di sisi lain, penyaluran kredit ke sektor riil justru menunjukkan tren yang berbeda. Pertumbuhannya stabil di angka 8,9 persen, sama seperti bulan Februari. Stabil sih, tapi patut dicatat bahwa angka ini hanya mencakup pinjaman konvensional (loans). BI dengan tegas menyatakan, instrumen lain seperti surat berharga atau tagihan repo tidak dimasukkan dalam hitungan ini.
Belum lagi, kredit yang disalurkan oleh kantor bank di luar negeri, atau yang ditujukan untuk pemerintah pusat dan non-penduduk, juga dikecualikan. Jadi, angka 8,9 persen itu murni menggambarkan kredit untuk korporasi dan rumah tangga dalam negeri.
Sementara itu, cerita lain datang dari uang primer atau M0 adjusted. Pada Maret 2026, komponen ini tumbuh 16,8 persen, melanjutkan tren positif dari bulan sebelumnya yang 18,3 persen. Nilainya sekarang menyentuh Rp2.396,5 triliun.
Perkembangannya sendiri dipengaruhi dua hal: giro bank umum di BI yang melonjak 41,8 persen, dan uang kartal yang beredar di masyarakat yang naik 8,6 persen. BI juga menegaskan, perhitungan M0 adjusted ini sudah mempertimbangkan dampak dari berbagai insentif likuiditas yang mereka berikan. Jadi, angkanya bisa dibilang sudah disesuaikan dengan kebijakan moneter yang berlaku.
Artikel Terkait
Riset: 26% Gen Z Aktif Membaca, Angka Tertinggi di antara Generasi
Polisi Gulung Peredaran 1.013 Butir Ekstasi dan Sabu di Kamar Kos Kalideres
Insentif Pajak Mobil Listrik Berakhir, Biaya Kepemilikan VinFast VF3 Melonjak
Aturan Ganjil Genap di Jakarta Ditiadakan pada Hari Buruh 1 Mei 2026