Di Polda Kalimantan Tengah, ada sebuah inovasi unik yang digagas oleh Kompol Jarot Budi Purnomo. Namanya E-Kopi Papi singkatan dari Elektronik Konseling Psikologi dan Pinjam Pakai Senpi. Intinya, aplikasi ini dibuat buat mempermudah seluruh anggota di sana mengakses layanan konseling, kapan saja dan di mana saja.
Atas kerja kerasnya itu, nama Kompol Jarot malah diusulkan masuk dalam program Hoegeng Awards 2026. Saat ini, pria yang menjabat sebagai Ps Kabag Psikologi Biro SDM Polda Kalteng ini tak cuma fokus pada internal kepolisian. Dia juga ternyata aktif menghadirkan layanan psikologi langsung ke masyarakat.
Salah satu wujudnya? Layanan psikologi mobile yang digelar tiap Car Free Day (CFD) di Kota Palangkaraya.
Suprapto, salah seorang warga, mengaku sering merasakan manfaatnya. Dia biasa datang ke CFD bersama anak dan cucunya.
"Jadi anu kalau di situ itu kan saya dengan cucu itu ada main-main tempatnya juga. Terus anak saya itu pernah juga yang masuk ke mobilnya itu lho. Di mobilnya itu ada konseling, konseling Psikologi rasanya. Konseling-konseling gitu lho pokoknya, tapi anak-anak saya yang pernah konseling-konseling gitu,"
Menurut Suprapto, layanan itu selalu ramai peminat. Para petugas yang berjaga pun dinilainya sangat ramah dalam melayani.
"Peminatnya banyak kalau di CFD itu banyak. Gitu kan orang-orang jalan-jalan di situ kesempatan kita bawa anak-anak cucu-cucu kita,"
Di mata Suprapto, Kompol Jarot adalah sosok polisi yang murah senyum dan bersahaja. Bahkan, dia berharap figur seperti ini bisa ditiru oleh polisi lainnya.
"Kalau polisi itu seperti itu semua waduh saya kira-kira masyarakat itu juga anu juga, Pak. Nah itu saja. Ibaratnya beliau itu bisa jadi contoh itu ibaratnya polisi itu,"
Dihubungi terpisah, Kompol Jarot bercerita kalau aplikasi E-Kopi Papi ini lahir pada 2022 silam. Ide itu muncul setelah dia melihat dua hal: keterbatasan tenaga konselor dan wilayah Kalteng yang sangat luas.
"Saya membuat aplikasi itu sehingga memudahkan anggota untuk bisa konseling langsung manakala ada hal-hal yang perlu konseling,"
Dia menjelaskan, aplikasi ini bisa dipakai anggota untuk konseling psikologi pranikah, misalnya. Jadi mereka nggak perlu lagi repot-repot datang ke kantor Polda.
"Kalau datang membutuhkan waktu dan biaya, sehingga dengan e-Kopi Papi ini cukup dengan diisi, mereka video call dengan kami konselingnya melalui video call dengan aplikasi, sehingga memudahkan pihak yang bersangkutan, meringankan beban yang bersangkutan, dan efektif di mana pun bisa, gitu,"
Cara pakainya sederhana. Unduh dulu aplikasinya di Android, lalu daftar dan pilih psikolog yang dirasa cocok untuk mendampingi sesi konseling.
"Nah, nanti kalau sudah cocok, 'Oh, ini mungkin mohon maaf cewek, oh saya cocoknya dengan cewek'. Oh, ini.. nah, tinggal nanti klik WA nanti akan tersambung. Jadi akan dikonfirmasi oleh konselor yang ada di Polda,"
Sejauh ini, rata-rata ada 20 sampai 30 anggota yang aktif konseling via aplikasi. Mayoritas urusan pranikah. "Kalau yang pribadi rata-rata mereka kadang datang langsung ke kami," tambah Jarot.
Rupanya, ini bukan ide pertama yang dia cetuskan. Saat masih bertugas di Sumatera Selatan dulu, dia sudah membuat hal serupa. Bedanya cuma di nama. Begitu pindah ke Kalteng, dia ajukan lagi ide itu ke pimpinan dan disetujui.
"Dengan aplikasi ini saya lapor ke pimpinan, pimpinan waktu itu mendukung, setuju, langsung di-launching kan,"
Fitur lain yang tak kalah penting adalah pemberitahuan tes psikologi bagi anggota yang meminjam senjata api. Lewat aplikasi, mereka bisa tahu kapan masa tes berakhir, jadi bisa siap-siap untuk tes ulang.
"Pinjam pakai senpi setelah ada aturan baru, aturan baru ini psikologi adalah salah satu syarat untuk seseorang diberikan pinjam pakai senpi. Ada syarat lain juga. Ada keterampilan menembak, ada tidak pernah terlibat pelanggaran, tidak ada tindakan hukuman disiplin dan sebagainya. Terus kemudian tidak ada dumas-an, kinerja baik, sehingga sekarang variabelnya banyak. Tes psikologi adalah salah satunya,"
Kembali ke layanan mobile di CFD, Kompol Jarot bilang program itu lahir karena keprihatinannya pada maraknya kasus perundungan dan masalah sosial lain.
"Saya melihat peluang di CFD, karena saya ada mobil pelayanan sehingga saya waktu itu ya membuka stand aja di CFD gitu. Pertamanya mobil saja, pelayanan siapa yang mau konseling. Akhirnya berkembang kami membuat pojok baca, pojok bermain anak-anak, terus ruang untuk istilahnya aplikasi, ada tes psikologi untuk melihat tingkat stres masyarakat. Setelah itu mereka bisa konseling dalam mobil, sehingga berkembang sampai saat ini,"
Dia bersyukur respons masyarakat sangat positif. Nggak cuma untuk konseling, banyak juga orang tua yang sengaja membawa anaknya ke pojok baca yang disediakan.
"Alhamdulillah banyak, terutama banyak apalagi kalau Minggu itu karena di situ ada pojok, khususnya orang tua ngajak anak-anaknya ya,"
Selain CFD, ada juga program 'Psikologi Goes to School' yang dijalankannya. Tujuannya memberi pemahaman tentang anti-bullying, kesehatan mental, sampai bahaya kenakalan remaja. Kerja sama dengan pihak sekolah ini ternyata berbuah manis.
"Alhamdulillah dapat respons positif juga,"
Bahkan, berkat program ini terungkap sebuah kasus perundungan yang dialami seorang siswa selama dua tahun. Kasusnya ketahuan setelah si pelajar melakukan konseling dengan psikolog Polda.
"Akhirnya Ibu Kepala Sekolah waktu itu tahu, 'Bu, ternyata anak ini pernah dapat bullying malah dari gurunya gitu', akhirnya ya ada komunikasi dengan guru itu yang dapat teguran dari kepala sekolah. Pokoknya gitu akhirnya ada komunikasi yang terbuka yang selama ini mungkin tertutup,"
Artikel Terkait
KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Lagi untuk Perkuat Kasus Korupsi Kuota Haji
AS Cegat dan Alihkan Tiga Kapal Tanker Minyak Iran di Perairan Asia
BRI Dorong Pemberdayaan Perempuan Melalui Program Pertanian Perkotaan BRInita
Hari Konsumen Nasional 2024 Soroti Perlindungan sebagai Fondasi Indonesia Emas